Pernahkah kalianmengamati bintang? Begitu indah bukan? Saat
melihatnya, selalu terpikir dibenak kita untuk bisa menggapai salah satu
saja dari ribuan bintang di angkasa..
Malam itu,
Difasedang asyik duduk bersama sahabatnya yang bernama Irfan di sebuah
taman.Mereka bercanda dan saling berbagi cerita. Terkadang, mereka
berhenti sejenakuntuk merasakan hembusan angin malam yang membelai
mereka.
“Hay angin,dapatkah kau mendengarku?” teriak Irfan, tentu saja tak ada jawaban! Merekapuntertawa.
Difa menatap ke arahlangit. “Fan, coba kamu lihat!” ucap Difa menunjuk
bintang-bintang di angkasa.Irfan tersenyum, “Apa yang kamu pikirkan?”
Difa menghelanafas panjang “Aku ingin menjadi seperti bintang, selalu
membuat orang bahagiadan ingin menggapainya, tetapi. . . .” Difa tak
melanjutkan perkataannya.
“Tapi apa?”
“Bintang-bintangitu tak selalu menghisi setiap malam, ada kalanya
mereka akan tertutup awan mendungketika akan turun hujan” Jawab Difa
dengan masih tetap memandangbintang-bintang di angkasa.
Irfanmenggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, bingung! Ia
memikirkan apa yangharusnya ia katakan pada saat itu. Merekapun
terhanyut dalam keheningan, hanya terdengarsuara samar orang-orang dari
kejauhan.
“Ayolah Dif!” ucapIrfan membuka pembicaraan.
“Ayo kemana sih?”
Irfan menunjuk keatas. Difa tersenyum, ia tak menjawab membuat Irfan
semakin penasaran denganisi hati Difa saat itu. “Uhh,, siapa sih Dif,
yang gak kenal kamu?” tukas Irfandengan memukul pelan lengan Difa.
Saat itu, ada duaorang yang berjalan didepan mereka. Bukan sapaan atau
senyuman yang di dapat, tetapisalah seorang malah berbisik kepada
temannya sambil memandang sinis kearah Difa.Sekali lagi Difa tersenyum,
Irfan memandangnya ragu.
Setelah dua orangitu berlalu,
lewat lagi sekelompok anak muda berjalan di depan Difa dan Irfan.Mereka
semua tersenyum saat melihat Difa, bahkan ada pula yang menyebut-nyebut
namaDifa. Segera Difa membalas sapaan mereka.
Irfan
mendapatkesimpulan dari 2 kejadian itu. “Dif, gak semua orang akan
merasa bahagiadengan kesuksesanmu. Mungkin mereka iri atas apa yang kamu
miliki,dan semuayang kamu cita-citakan tak akan dengan mudah tercapai.
Semua pasti butuhPerjuangan dan kesabaran!”
“Aku tau kok, akuhanya ingin memberi yang terbaik untuk mereka semua.”
Irfan memandangDifa bahagia, ia senang jika melihat sahabatnya tersenyum. “Tetaplah menjadi
Dif, bintang yang selalu bersinar untuk semua orang!”
Difa da Irfan pun kembali menghabiskan waktu dengan bercanda.
Persahabatan mereka yang begitu tulus membuat semua kejadian yang mereka
alami seakan sangat berkesan..
Aku pernah bermimpi
Menjadi bintang yang paling bersinar
Ku tak menyangka ini terjadi
Kegagalan yang pernah kualami
Menjadikanku semakin kuat
Aku bersyukur jadi seperti ini
Kebahagiaan ini janganlah cepat
berlalu
Karena tak mudah untuk menggapainya
Ku berjanji akan menjaga semua
Terima kasih Tuhan
atas segala anugrah yang kau beri Kepadaku
Semoga kantetap abadi
Aku pernah berharap
Menjadi sesuatu yang berharga untuk semua orang
Yang menyayangiku
Kegagalan yang pernah kualami
Menjadikanku semakin kuat
Aku bersyukur jadi seperti ini
Kebahagiaan ini janganlah cepat
berlalu
Karena tak mudah untuk menggapainya
Ku berjanji akan menjaga semua
Terima kasih Tuhan
atas segala anugrah yang kau beri Kepadaku
Semoga kantetap abadi…
The end :)
Kamis, 30 Januari 2014
Lost In London *Chapter 2
Walaupun langit pada malam itu
Bermandikan cahaya bintang
Bulan pun bersinar betapa indahnya
Namun menambah kepedihan
Kuakan pergi meninggalkan dirimu
Menyusuri liku hidupku
Janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu
Berikanlahsenyuman padaku…
Sejenak semua terdiam, untuk menunggu kepastian dari Difa.
“Oke-oke, aku ngerti! Sekarang Difa mau Tanyasama Angel, apakah kamu bersedia menungguku? Apa kamu mau berhubungan jarak jauh denganku?” Tanya Difa bersungguh-sungguh. Angel segera mengangguk cepat.
“Aku pasti nunggu kamu Dif, pasti itu! Percayalahjika aku ini benar-benar jalanmu, sampai akhirnya aku tetap milikmu!”
Difa memeluk erat Angel seakan tak inginberjauhan dengannya, Sedangkan Gilang, Bagas, Cindai, Rafli dan Marsha yangsedari tadi menyaksikan, tenggelam dalam keharuan. Selepas itu, mereka kembali bercanda dan berbincang-bincang dimalam yang indah itu. Waktu bersama Difa menjadi sangat berharga mengingat iatak lama lagi akan meninggalkan mereka ke London.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00. Difapun teringat pada pesan papanya untuk tidak pulang terlalu malam agar tidak di kunciin pintu. “Ehh.. udah jam sembilan,aku harus segera pulang nih!”
“Iya aku juga udah capek banget nih, Marsha samaCindai jadi menginap disini ya?” Tanya Bagas sembari beranjak dari kursinya.
“Iya, aku lagi butuh temen cerita” Jawab Angelsesegera mungkin.
“Ya lah, kalau gitu kita pulang dulu.. Daahhsampai jumpa hari senin” ucap Gilang dengan melambaikan tangan yang diikutijuga oleh Rafli. Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
Saat diperjalanan, Difa melirik ke arah jamtangannya. “What? Setengah sebelas? Beneran kenaomel atau mungkin dikunciin juganih. Lagian nih Jakartagak siang gak malem masih aja macet!” Difa mengumpat kesal. Ia membunyikanklakson berulang-ulang. Saat itu muncullah seorang laki-laki turun dari mobilyang berada di depan mobil Difa dan menghampirinya.
Ia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Difa.Segera Difa membukanya.
“Ada apa Om?” Tanya Difa polos. Padahal terang saja laki-laki tersebut akan komplain masalah klaksonyang dibunyikannya berkali-kali.
“Aduh cah ganteng, aku iki adoh-adoh yo tekoJogja, sektas taken. Iki macet le singsabar toh, iso kopok kupingku merga klaksonmu!” (Aduh anak ganteng, saya inijauh-jauh dari Jogja. Ini macet *sebutan anak laki-laki* yang sabar donk, bisa tuli telingaku gara-garaklaksonmu).
Difa yang sedari tadi mendengarkan lelaki yangkatanya dari Jogja itu hanya melongo. Sedikit-sedikit ia dapat menangkap apayang dibicarakannya. Segera Difa meminta maaf atas ketidaknyamanan itu. “IyaOm, maaf maaf banget.”
Lelaki tersebut memandang Difa aneh, kemudianwajahnya yang awalnya terlihat ramah berubah menjadi garang. “Kamu tunggusini!”. Ucap lelaki tersebut kemudian ia kembali ke mobilnya.
“Itu orang kenapa? Jangan-jangan bakalan dituntut nih” Difa membayangkan dirinya dituntut sedikit ngeri.
“Heh, kamu Difa anaknya Cakka kan? Ini kasih ke Papa kamu!” ucap orangtersebut dan memberikan sebuah amplop besar pada Difa. Kemudian olak-balikamplop tersebut. Sebenarnya siapa orang tersebut? Ada hubungan apa dengan Cakka? Dan apa isiamplop tersebut?
30 kemudian, jalanan kembali normal,Difa ingin segera sampai dirumah dan mengatakan semua pada Papa dan Mamanya.Sesampainya dirumahm Difa memasukkan mobilnya ke garasi dan cepat-cepat turun.
“Semoga gak dikunci” ucap Difaberharap dengan memegang daun pintu.
Ceklek!
Beruntung, ternyata pintunya tidakterkunci. Ia segera masuk dan berjingkat-jingkat menuju kamarnya di lantai 2.Karna saat itu sedang gelap, Difa tidak melihat bahwa lantainya basah, Dan saatdia berjalan di tingkat limatiba-tiba. . . .
BRUKK!
“Aduhh kakiku sakit!” Difa terjatuh!Ia merintih kesakitan dan memegang kakinya. Seketika tampak Cakka dan Agnidatang lalu menyalakan lampu. Mereka terkejut melihat Difa. Agni terlihat sangat panik, kemudian dengan sigap Cakka memapah Difa ke kamarnya dan membaringkan ke tempat tidur.
“Baru pulang?” Tanya Cakka menahanemosi setelah membawa Difa ke kamarnya.
“Sudahlah Kka, anak lagi sakit..Gimana nak, apa perlu mama panggil tukang pijat?” Tanya Agni cemas
“Maaf Pa, Gakusah Ma.. Difa gak kenapa-kenapa. Oh iya tadi ada seseorang yang menitipkan inipada Difa. Dia bilang suruh berikan ke Papa. Katanya sih dari Jogja, tapi Difagak tau siapa orang itu” Jelas Difa panjang lebar dan menyerahkan amploptersebut. Cakka dan Agni saling berpandangan.
“Hahh? Apa maksudnya ini? Ya tuhan,apa yang harus kita lakukan?” Cakka panik ketika membaca apa yang ada di dalamamplop tersebut. Agni segera merebutnya dari tangan Cakka. Setelah membaca, iamemandang Difa cemas. Kemudian butiran-butiran air mata membasahi pipinya.
“Ini pada kenapa Mama sama Papa? Difa gak ngerti?” Tanya Difa bingung melihat kedua orang tuanya itu.
“Sudah ya Difa tidur aja dulu, ini sudah malam. Kalau bisa besok kamu di rumah aja gak usah kemana-mana!” Perintah Cakka pada Difa. Difa menurut dan ia pun tidur. Cakka dan Agni keluar darikamar anaknya itu.
Keesokkanharinya. . . . . . .
Difa baru saja selesai mandi, iamengenakan Kaos berwarna putih dan celana jeans pendek. Ia mengambil kuncimobilnya dan turun ke bawah dengan langkah pincang. Kakinya masih terasa sakit.
“Eh, mau kemana kamu?” Tanya Agnisaat melihat Difa memegang kunci mobilnya,
“Difa mau ke bengkel depan perumahanitu Ma, bentar doank kok..”
Tiba-tiba, Cakka datang menghampirimereka. “Difa, sepertinya kamu sudah gak aman lagi disini. Papa ingin sesegeramungkin kamu Sekolah di London!”
Difa membulatkan matanya, tak percaya atas apa yang ia dengar barusan. “Papa serius? Tapi kenapa?”
“Papa gak bisa jelasin sekarang kekamu, Oke kalau kamu mau ke bengkel silahkan saja. Tapi ingat pesan Papa,hati-hati dan jangan terlalu lama”
Akhirnya Difa langsung pergi kebengkel mobil di dekat rumahnya, ia meminta agar mobilnya diservis sekaligus di mandikan(?). Sambil menunggu, ia mendengarkan lagu dari Handphonenya menggunakan Headset.
“DORR”
Difa terkejut saat mendegar suaraitu, oalah ternyata Angel sengaja mengagetinya.
“Ya ampun Ngel, kaget tau! Kamungapain disini?”
“Hehe.. Maaf, tadi aku kerumah kamu,Kata Tante Agni, kamu lagi ke bengkel. Ya sudah aku susul kesini”
Beberapa menit, mereka terdiam dalamkeheningan. Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir mereka. Dan ketikaitu Difa membuka pembicaraan.
“Ngel, ada berita buruk”
Angel segera menoleh ke Difa, “Ada apa Dif?”
“Kata Papa, aku harus secepatnyasekolah di London,katanya aku sudah tak aman lagi disini” Difa berusaha menjelaskan. Angeltertunduk.
“Tapi kenapa harus secepat itu?”
Difa menaikkan bahunya tanda takmengerti, Angel kembali tertunduk lesu…
“Dif, sebenarnya aku mau memintabantuan kamu”
“Apa? Mungkin aku bisa Bantu”
“Aku mau cari papa aku Dif”
Difa tertegun, mencari Papa Angel? “Bisa aja sih,tapi mungkin terlalu rumit Ngel”
“Ya kalau kamu gak bisa gak Kenapa-napa kok.”
“Pasti aku Bantu kamu Ngel, Aku janji!” Difa danAngel saling mengaitkan kelingking
Bermandikan cahaya bintang
Bulan pun bersinar betapa indahnya
Namun menambah kepedihan
Kuakan pergi meninggalkan dirimu
Menyusuri liku hidupku
Janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu
Berikanlahsenyuman padaku…
Sejenak semua terdiam, untuk menunggu kepastian dari Difa.
“Oke-oke, aku ngerti! Sekarang Difa mau Tanyasama Angel, apakah kamu bersedia menungguku? Apa kamu mau berhubungan jarak jauh denganku?” Tanya Difa bersungguh-sungguh. Angel segera mengangguk cepat.
“Aku pasti nunggu kamu Dif, pasti itu! Percayalahjika aku ini benar-benar jalanmu, sampai akhirnya aku tetap milikmu!”
Difa memeluk erat Angel seakan tak inginberjauhan dengannya, Sedangkan Gilang, Bagas, Cindai, Rafli dan Marsha yangsedari tadi menyaksikan, tenggelam dalam keharuan. Selepas itu, mereka kembali bercanda dan berbincang-bincang dimalam yang indah itu. Waktu bersama Difa menjadi sangat berharga mengingat iatak lama lagi akan meninggalkan mereka ke London.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00. Difapun teringat pada pesan papanya untuk tidak pulang terlalu malam agar tidak di kunciin pintu. “Ehh.. udah jam sembilan,aku harus segera pulang nih!”
“Iya aku juga udah capek banget nih, Marsha samaCindai jadi menginap disini ya?” Tanya Bagas sembari beranjak dari kursinya.
“Iya, aku lagi butuh temen cerita” Jawab Angelsesegera mungkin.
“Ya lah, kalau gitu kita pulang dulu.. Daahhsampai jumpa hari senin” ucap Gilang dengan melambaikan tangan yang diikutijuga oleh Rafli. Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
Saat diperjalanan, Difa melirik ke arah jamtangannya. “What? Setengah sebelas? Beneran kenaomel atau mungkin dikunciin juganih. Lagian nih Jakartagak siang gak malem masih aja macet!” Difa mengumpat kesal. Ia membunyikanklakson berulang-ulang. Saat itu muncullah seorang laki-laki turun dari mobilyang berada di depan mobil Difa dan menghampirinya.
Ia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Difa.Segera Difa membukanya.
“Ada apa Om?” Tanya Difa polos. Padahal terang saja laki-laki tersebut akan komplain masalah klaksonyang dibunyikannya berkali-kali.
“Aduh cah ganteng, aku iki adoh-adoh yo tekoJogja, sektas taken. Iki macet le singsabar toh, iso kopok kupingku merga klaksonmu!” (Aduh anak ganteng, saya inijauh-jauh dari Jogja. Ini macet *sebutan anak laki-laki* yang sabar donk, bisa tuli telingaku gara-garaklaksonmu).
Difa yang sedari tadi mendengarkan lelaki yangkatanya dari Jogja itu hanya melongo. Sedikit-sedikit ia dapat menangkap apayang dibicarakannya. Segera Difa meminta maaf atas ketidaknyamanan itu. “IyaOm, maaf maaf banget.”
Lelaki tersebut memandang Difa aneh, kemudianwajahnya yang awalnya terlihat ramah berubah menjadi garang. “Kamu tunggusini!”. Ucap lelaki tersebut kemudian ia kembali ke mobilnya.
“Itu orang kenapa? Jangan-jangan bakalan dituntut nih” Difa membayangkan dirinya dituntut sedikit ngeri.
“Heh, kamu Difa anaknya Cakka kan? Ini kasih ke Papa kamu!” ucap orangtersebut dan memberikan sebuah amplop besar pada Difa. Kemudian olak-balikamplop tersebut. Sebenarnya siapa orang tersebut? Ada hubungan apa dengan Cakka? Dan apa isiamplop tersebut?
30 kemudian, jalanan kembali normal,Difa ingin segera sampai dirumah dan mengatakan semua pada Papa dan Mamanya.Sesampainya dirumahm Difa memasukkan mobilnya ke garasi dan cepat-cepat turun.
“Semoga gak dikunci” ucap Difaberharap dengan memegang daun pintu.
Ceklek!
Beruntung, ternyata pintunya tidakterkunci. Ia segera masuk dan berjingkat-jingkat menuju kamarnya di lantai 2.Karna saat itu sedang gelap, Difa tidak melihat bahwa lantainya basah, Dan saatdia berjalan di tingkat limatiba-tiba. . . .
BRUKK!
“Aduhh kakiku sakit!” Difa terjatuh!Ia merintih kesakitan dan memegang kakinya. Seketika tampak Cakka dan Agnidatang lalu menyalakan lampu. Mereka terkejut melihat Difa. Agni terlihat sangat panik, kemudian dengan sigap Cakka memapah Difa ke kamarnya dan membaringkan ke tempat tidur.
“Baru pulang?” Tanya Cakka menahanemosi setelah membawa Difa ke kamarnya.
“Sudahlah Kka, anak lagi sakit..Gimana nak, apa perlu mama panggil tukang pijat?” Tanya Agni cemas
“Maaf Pa, Gakusah Ma.. Difa gak kenapa-kenapa. Oh iya tadi ada seseorang yang menitipkan inipada Difa. Dia bilang suruh berikan ke Papa. Katanya sih dari Jogja, tapi Difagak tau siapa orang itu” Jelas Difa panjang lebar dan menyerahkan amploptersebut. Cakka dan Agni saling berpandangan.
“Hahh? Apa maksudnya ini? Ya tuhan,apa yang harus kita lakukan?” Cakka panik ketika membaca apa yang ada di dalamamplop tersebut. Agni segera merebutnya dari tangan Cakka. Setelah membaca, iamemandang Difa cemas. Kemudian butiran-butiran air mata membasahi pipinya.
“Ini pada kenapa Mama sama Papa? Difa gak ngerti?” Tanya Difa bingung melihat kedua orang tuanya itu.
“Sudah ya Difa tidur aja dulu, ini sudah malam. Kalau bisa besok kamu di rumah aja gak usah kemana-mana!” Perintah Cakka pada Difa. Difa menurut dan ia pun tidur. Cakka dan Agni keluar darikamar anaknya itu.
Keesokkanharinya. . . . . . .
Difa baru saja selesai mandi, iamengenakan Kaos berwarna putih dan celana jeans pendek. Ia mengambil kuncimobilnya dan turun ke bawah dengan langkah pincang. Kakinya masih terasa sakit.
“Eh, mau kemana kamu?” Tanya Agnisaat melihat Difa memegang kunci mobilnya,
“Difa mau ke bengkel depan perumahanitu Ma, bentar doank kok..”
Tiba-tiba, Cakka datang menghampirimereka. “Difa, sepertinya kamu sudah gak aman lagi disini. Papa ingin sesegeramungkin kamu Sekolah di London!”
Difa membulatkan matanya, tak percaya atas apa yang ia dengar barusan. “Papa serius? Tapi kenapa?”
“Papa gak bisa jelasin sekarang kekamu, Oke kalau kamu mau ke bengkel silahkan saja. Tapi ingat pesan Papa,hati-hati dan jangan terlalu lama”
Akhirnya Difa langsung pergi kebengkel mobil di dekat rumahnya, ia meminta agar mobilnya diservis sekaligus di mandikan(?). Sambil menunggu, ia mendengarkan lagu dari Handphonenya menggunakan Headset.
“DORR”
Difa terkejut saat mendegar suaraitu, oalah ternyata Angel sengaja mengagetinya.
“Ya ampun Ngel, kaget tau! Kamungapain disini?”
“Hehe.. Maaf, tadi aku kerumah kamu,Kata Tante Agni, kamu lagi ke bengkel. Ya sudah aku susul kesini”
Beberapa menit, mereka terdiam dalamkeheningan. Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir mereka. Dan ketikaitu Difa membuka pembicaraan.
“Ngel, ada berita buruk”
Angel segera menoleh ke Difa, “Ada apa Dif?”
“Kata Papa, aku harus secepatnyasekolah di London,katanya aku sudah tak aman lagi disini” Difa berusaha menjelaskan. Angeltertunduk.
“Tapi kenapa harus secepat itu?”
Difa menaikkan bahunya tanda takmengerti, Angel kembali tertunduk lesu…
“Dif, sebenarnya aku mau memintabantuan kamu”
“Apa? Mungkin aku bisa Bantu”
“Aku mau cari papa aku Dif”
Difa tertegun, mencari Papa Angel? “Bisa aja sih,tapi mungkin terlalu rumit Ngel”
“Ya kalau kamu gak bisa gak Kenapa-napa kok.”
“Pasti aku Bantu kamu Ngel, Aku janji!” Difa danAngel saling mengaitkan kelingking
Lost In London *Chapter 1
Sedikit demi sedikit, sang mentari mulai tertutup awan
hitam. Mendung di sore hari terasa sejuk dengan semilir angin.
Sepertinya cuaca diluar sama seperti suasana hati Difa yang sedang
mendung. Ia menatap keluar jendela kamarnya. Tak lama, butiran air hujan
turun membasahi bumi. Difa menjulurkan tangannya keluar jendela untuk
menadahi air hujan.Kemudian ia memejamkan matanya. Difa teringat
kejadian saat pulang sekolahtadi.
##
“Difa, ada yang mau Papa omongin sama kamu” Ucap seorang lelaki paruh baya yang menyebut dirinya ‘Papa’. Ya, dia adalah Cakka, alias Papa Difa. Disampingnya duduk seorang wanita berwajah manis. Itu adalah Agni, istri Cakka sekaligus Mama Difa.
“Iya, ada apa Pa?” Tanya Difa denganmenyimpan sejuta rasa penasaran.
“Kemungkinan tahun depan kita bakal balik ke London,”
“Apa? gak mau ahh... Bagaimana jika Difa disini saja? atau ngekost kan bisa?”
Cakka dan Agni saling menatap, mereka bingung bagaimana menjelaskan pada Difa. Cakka menghela nafas panjang. “Pokoknya kamu harus ikut. Tenang aja, disana Papa punya temen anaknya seumuran denganmu, kamu bisa bersahabat dengannya” Ujar Cakka panjang lebar. Difa tertegun, haruskah ia ikut Ke kampung halaman papanya? Ia tak rela meninggalkan sahabat-sahabatnya di sini. Sungguh ia tak rela!
##
Handphone Difa berbunyi, ia segera beranjak dan mengambil ponselnya di dalam tas. Ternyata ada SMS dari Angel. Ia membuka pesan tersebut
From : Angel
To : Difa
Difa, nanti malamdatang ya ke rumahku jam 19.00, untuk merayakan anniv 5 bulan kita. Hehe, kalau gak repot harap datang yaa? Please, oke? Angel tunggu... Daaaaahhh
Difa tersenyum dan segera membalas pesan tersebut.
To : Angel
From :Difa
Oke, pasti Difa datang kok, sampai jumpa nanti…
Send!
Difa melempar handphonenya ke atas kasur dan pergi mandi. Sepertinya ia mulai lupa dengan rencana Papanya itu.
>>>
@Angel's House
Angel begitu sibuk membantu mamanya untuk mempersiapkan pesta nanti malam.
“Ma, semua teman-teman sudah Angel undang, terus apa lagi?” Tanya Angel pada Sivia, Mamanya.
“Yakin semua sudah? Difa gimana? Sudah di undang kan?”Tanya Sivia meyakinkan.
“Ahh.. Mama, malah dia orang pertama yang Angel undang kan hari ini. . .” Angel tak melanjutkan dan segera menutup mulutnnya . Ya, sejak kecil Angel bersahabat dengan Difa. Tak hanya itu, Sivia dan Agni mendukung mereka untuk jadian. Karena Difa dan Angel bukan anak kecil lagi, mereka sudah remaja.
“Ooohh… Bagus kalau gitu. Jujur deh,sebenarnya kamu udah jadian sama Difa kan? Dan sekarang adalah anniv ke 5 bulan kamu sama dia?” Sivia menggoda putrinya yang terlihat malu-malu.
“Gimana ya Ma,? iya sih, tapi kok mama tau?” tanya Angel dengan wajah sedikit tertunduk.
“Haha.. Ya taulah, Difa aja sudah cerita ke Mamanya, kamu aja yang main rahasia-rahasia'an" Sivia tertawa mendengar pertanyaan putri semata wayangnya tersebut. Angel hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka pun kembali dengan kesibukannya. Selang beberapa saat, terdengar bel berbunyi, dengan segera Angel membukakan pintu.Ternyata Cindai, Cindai diminta datang lebih awal untuk membantu Angel mempersiapkan pesta nanti malam.
“Hai Ndai, datang kesini sama siapa? Tumben cepet banget” celutuk Angel. Cindai malah cengengsan gak jelas.
“Sendirian lah, maunya sama siapa?”
“Bagas? Jangan bilang kalau dia gak mau datang!”
“Dia datang kok, tapi sekarang masih ada urusan, makanya aku datang sendiri.” Jelas Cinda yang dibarengi dengananggukan Angel.
>>>
Back to Difa
Tepat pukul 18.45 WIB, Difa sudah rapi mengenakan kemeja berwarna merah dengan celana jeans. Malam itu, Difa terlihat sangat tampan.
“Bilang gak ya? Gak siap mental nih.Ohh ayolah Difa Lo itu cowok!!" Difa berbicara sendiri di depan cermin. Kemudian ia merapikan tatanan rambutnya dan siap pergi kerumah Angel.
“Wah mau kemana kamu? Rapi amat?” Tanya Cakka saat melihat putranya berpakaian rapi.
“Mau kerumah temen Pa”
“Oohh mau ke rumah Angel pasti nih… Udah ganteng kok” ujar Agni sembari mengacak pelan rambut Difa.
“Yahh Mama, rusak deh rambut Difa. Yaudah ah Difa berangkat dulu ya Ma, Pa” Difa berpamitan pada orang tuanya.
“Hati-hati jangan pulang kemalaman. Papa kunciin pintu loh!” ancam Cakka sekaligus menasehati.
~~
Selama di perjalanan, Difa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak ingin terlambat dan mengecewakan tuan rumah. Dan 20 menit kemudian, tibalah Difa dirumah Angel.
“Hayy aku gak terlambat kan?” ucap Difa berbasa-basi pada teman-temannya yang telah hadir di Acara pesta tersebut.
“Maaf bung, anda telat 5 menit” Jawab Gilang dengan nada kesal. Difa hanya tertawa.
“Oh iya Ngel, ini buat kamu” Difa menyerahkan sebuah kotak dibungkus kertas kado berwarna pink favorite Angel.
“Makasih Dif, Emm kado buat kamu belum aku bungkus, besok aja ya. Hehe"
“Yahh Angelpayah nih, giliran romantis-romantisnya ehh belum bungkus kado” celutuk Bagasdiiringi gelak tawa yang lain.
Setelahacara makan-makan juga seru-seruan, tiba-tiba Difa menarik tangan Angel. “Ngel,aku mau bicara empat mata sama kamu” Angel menurut saja saat Difa menariknya.Difa mengajak Angel ke taman belakang rumah.
“Ada apa Dif?” Tanya Angelpenasaran. Difa menggenggam erat tangan Angel. DifAngel tak sadar jika ada lima pasang mata yangmengintai dari belakang.
“Sebenernyagini Ngel, kata Papaku, tahun depan kami akan kembali ke London”
“Apa? London?” ucap Marsha kagetsaat mendengar ucapan Difa. Segera DifAngel menoleh ke belakang.
“Payah kamuSha, bisa di rem gak sih?” ucap Cindai kesal. Tetapi berhubung DifAngel sudahmengerti keberadaan mereka, akhirnya semua berkumpul.
“Jadi kamumau ke London Dif?” Tanya Angel meyakinkan.
“Iya makadari itu aku minta kita ….?” Ucapan Difa terputus.
“Putus?Jangan gitu Dif, kamu gak boleh egois. Kalau kamu memang cinta dengan Angel,pertahankan! Gak peduli walaupun jarak memisahkan kalian!” ucap Rafli memberinasehat pada sohibnya.
##
“Difa, ada yang mau Papa omongin sama kamu” Ucap seorang lelaki paruh baya yang menyebut dirinya ‘Papa’. Ya, dia adalah Cakka, alias Papa Difa. Disampingnya duduk seorang wanita berwajah manis. Itu adalah Agni, istri Cakka sekaligus Mama Difa.
“Iya, ada apa Pa?” Tanya Difa denganmenyimpan sejuta rasa penasaran.
“Kemungkinan tahun depan kita bakal balik ke London,”
“Apa? gak mau ahh... Bagaimana jika Difa disini saja? atau ngekost kan bisa?”
Cakka dan Agni saling menatap, mereka bingung bagaimana menjelaskan pada Difa. Cakka menghela nafas panjang. “Pokoknya kamu harus ikut. Tenang aja, disana Papa punya temen anaknya seumuran denganmu, kamu bisa bersahabat dengannya” Ujar Cakka panjang lebar. Difa tertegun, haruskah ia ikut Ke kampung halaman papanya? Ia tak rela meninggalkan sahabat-sahabatnya di sini. Sungguh ia tak rela!
##
Handphone Difa berbunyi, ia segera beranjak dan mengambil ponselnya di dalam tas. Ternyata ada SMS dari Angel. Ia membuka pesan tersebut
From : Angel
To : Difa
Difa, nanti malamdatang ya ke rumahku jam 19.00, untuk merayakan anniv 5 bulan kita. Hehe, kalau gak repot harap datang yaa? Please, oke? Angel tunggu... Daaaaahhh
Difa tersenyum dan segera membalas pesan tersebut.
To : Angel
From :Difa
Oke, pasti Difa datang kok, sampai jumpa nanti…
Send!
Difa melempar handphonenya ke atas kasur dan pergi mandi. Sepertinya ia mulai lupa dengan rencana Papanya itu.
>>>
@Angel's House
Angel begitu sibuk membantu mamanya untuk mempersiapkan pesta nanti malam.
“Ma, semua teman-teman sudah Angel undang, terus apa lagi?” Tanya Angel pada Sivia, Mamanya.
“Yakin semua sudah? Difa gimana? Sudah di undang kan?”Tanya Sivia meyakinkan.
“Ahh.. Mama, malah dia orang pertama yang Angel undang kan hari ini. . .” Angel tak melanjutkan dan segera menutup mulutnnya . Ya, sejak kecil Angel bersahabat dengan Difa. Tak hanya itu, Sivia dan Agni mendukung mereka untuk jadian. Karena Difa dan Angel bukan anak kecil lagi, mereka sudah remaja.
“Ooohh… Bagus kalau gitu. Jujur deh,sebenarnya kamu udah jadian sama Difa kan? Dan sekarang adalah anniv ke 5 bulan kamu sama dia?” Sivia menggoda putrinya yang terlihat malu-malu.
“Gimana ya Ma,? iya sih, tapi kok mama tau?” tanya Angel dengan wajah sedikit tertunduk.
“Haha.. Ya taulah, Difa aja sudah cerita ke Mamanya, kamu aja yang main rahasia-rahasia'an" Sivia tertawa mendengar pertanyaan putri semata wayangnya tersebut. Angel hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka pun kembali dengan kesibukannya. Selang beberapa saat, terdengar bel berbunyi, dengan segera Angel membukakan pintu.Ternyata Cindai, Cindai diminta datang lebih awal untuk membantu Angel mempersiapkan pesta nanti malam.
“Hai Ndai, datang kesini sama siapa? Tumben cepet banget” celutuk Angel. Cindai malah cengengsan gak jelas.
“Sendirian lah, maunya sama siapa?”
“Bagas? Jangan bilang kalau dia gak mau datang!”
“Dia datang kok, tapi sekarang masih ada urusan, makanya aku datang sendiri.” Jelas Cinda yang dibarengi dengananggukan Angel.
>>>
Back to Difa
Tepat pukul 18.45 WIB, Difa sudah rapi mengenakan kemeja berwarna merah dengan celana jeans. Malam itu, Difa terlihat sangat tampan.
“Bilang gak ya? Gak siap mental nih.Ohh ayolah Difa Lo itu cowok!!" Difa berbicara sendiri di depan cermin. Kemudian ia merapikan tatanan rambutnya dan siap pergi kerumah Angel.
“Wah mau kemana kamu? Rapi amat?” Tanya Cakka saat melihat putranya berpakaian rapi.
“Mau kerumah temen Pa”
“Oohh mau ke rumah Angel pasti nih… Udah ganteng kok” ujar Agni sembari mengacak pelan rambut Difa.
“Yahh Mama, rusak deh rambut Difa. Yaudah ah Difa berangkat dulu ya Ma, Pa” Difa berpamitan pada orang tuanya.
“Hati-hati jangan pulang kemalaman. Papa kunciin pintu loh!” ancam Cakka sekaligus menasehati.
~~
Selama di perjalanan, Difa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak ingin terlambat dan mengecewakan tuan rumah. Dan 20 menit kemudian, tibalah Difa dirumah Angel.
“Hayy aku gak terlambat kan?” ucap Difa berbasa-basi pada teman-temannya yang telah hadir di Acara pesta tersebut.
“Maaf bung, anda telat 5 menit” Jawab Gilang dengan nada kesal. Difa hanya tertawa.
“Oh iya Ngel, ini buat kamu” Difa menyerahkan sebuah kotak dibungkus kertas kado berwarna pink favorite Angel.
“Makasih Dif, Emm kado buat kamu belum aku bungkus, besok aja ya. Hehe"
“Yahh Angelpayah nih, giliran romantis-romantisnya ehh belum bungkus kado” celutuk Bagasdiiringi gelak tawa yang lain.
Setelahacara makan-makan juga seru-seruan, tiba-tiba Difa menarik tangan Angel. “Ngel,aku mau bicara empat mata sama kamu” Angel menurut saja saat Difa menariknya.Difa mengajak Angel ke taman belakang rumah.
“Ada apa Dif?” Tanya Angelpenasaran. Difa menggenggam erat tangan Angel. DifAngel tak sadar jika ada lima pasang mata yangmengintai dari belakang.
“Sebenernyagini Ngel, kata Papaku, tahun depan kami akan kembali ke London”
“Apa? London?” ucap Marsha kagetsaat mendengar ucapan Difa. Segera DifAngel menoleh ke belakang.
“Payah kamuSha, bisa di rem gak sih?” ucap Cindai kesal. Tetapi berhubung DifAngel sudahmengerti keberadaan mereka, akhirnya semua berkumpul.
“Jadi kamumau ke London Dif?” Tanya Angel meyakinkan.
“Iya makadari itu aku minta kita ….?” Ucapan Difa terputus.
“Putus?Jangan gitu Dif, kamu gak boleh egois. Kalau kamu memang cinta dengan Angel,pertahankan! Gak peduli walaupun jarak memisahkan kalian!” ucap Rafli memberinasehat pada sohibnya.
Pertemuan Singkat -Shot Story-
Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi
sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk
memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya, baru saja Netta pindah
dari Manado ke Jakarta karena, Ayahnya ditugaskan untuk bekerja di
sana. Sebenarnya Netta merasa keberatan harus meninggalkan kampung
halamannya, tapi mau bagaimana lagi jika kenyataannya memang harus
begitu.
Netta membuka kaca jendela mobilnya dan melihat keluar. Hhh, Jakarta macet, begitulah pikirnya. Dia membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi di Sekolah barunya nanti.
"Semoga semua kan baik-baik saja" batin Netta yang kemudian melanjutkan acara melamunnya itu.
15 menit kemudian Netta telah sampai di gerbang sekolah barunya. Dia berjalan melewati lorong-lorong kelas, ternyata tak seburuk yang di pikirkannya, beberapa siswa tersenyum ramah kepadanya. Netta merasa lega.
Sesampainya di depan kelas, Netta masih tidak yakin itu kelasnya atau bukan, dia celingak-celinguk dan. . .
"BRUKK"
Netta terjatuh, dan dia berusaha secepatnya bangkit sebelum menjadi bahan tertawa anak-anak di kelas itu. Saat akan berdiri, seorang laki-laki mengulurkan tangannya untuk membantu Netta berdiri.
"Maaf ya, aku tadi buru-buru dan gak lihat kamu" ucap cowok yang menabraknya tersebut seraya membantu Netta berdiri.
"Iya gak apa, makasih ya" Jawab Netta tersenyum ramah pada anak laki-laki tersebut. Sosok tinggi, putih, ganteng juga manis itu berada dihadapan Netta persis.
"Eh, kamu anak baru rupanya, kenalin aku Ryansyah" ucap anak laki-laki tersebut yang ternyata bernama Ryansyah.
"Iya namaku Netta" Netta memperkenalkan dirinya pada Ryansyah. Entah mengapa Netta merasa grogi saat didekat Ryansyah. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Suatu kebetulan, Netta duduk di sebuah bangku kosong tepat di sebelah Ryansyah, karna, baru saja anak yang duduk bersama Ryansyah sebelum Netta pindah sekolah. Semua teman-teman di kelas itu tak perlu repot-repot berkenalan dengan Netta, karna jauh-jauh hari sebelumnya guru-guru sudah memberitahukan bahwa akan ada seorang anak baru pindahan dari Manado.
****
Bel istirahat berbunyi, Netta ingin sekali ke perpustakaan tapi ia tak tau dimana tempatnya.
“Syah, perpustakaan tempatnya dimana ya?” Netta bertanya pada Ryansyah yang sedang asyik ngumpul bareng teman-temannya.
“Enak aja panggil ‘Syah’! Namaku Ryansyah bukan Syah tau!” Omel Ryansyah pada Netta yang sebetulnya hanya bercanda. Netta cemberut mendengar omelan dari Ryansyah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Belum sempat ia pergi, Ryansyah segera mencegah Netta.
“Hey mau kemana? Cuma bercanda kali, gitu aja ngambek! Ayo aku antar, perpus di lantai dua” ajak Ryansyah sembari menarik Netta menuju lantai dua.
Sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar, dengan rak-rak buku yang tertata rapi disana. Banyak juga yang mengunjung perpustakaan saat istirahat ini. Termasuk Netta dan Ryansyah yang menghabiskan waktu istirahat untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka bersahabat seperti sudah lama sekali. Ryansyah memang anak yang supel dan mudah akrab dengan orang, karna itu juga dia terpilih sebagai ketua OSIS.
Netta mulai bosan dengan buku bacaanya dan mengajak Ryansyah untuk pergi ke kantin saja. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ke kantin.
”RYANSYAH!!!”
Beberapa anak perempuan berteriak histeris saat melihat Ryansyah, dengan ramahnya Ryansyah mengaggukkan kepala sambil tersenyum.
“Gila, kamu punya banyak fans ya di sekolah ini? Memang kamu artis atau penyanyi?” goda Netta pada Ryansyah yang terlihat malu-malu itu.
“Ahhh… apaan sih kamu, aku sama kok seperti yang lain. Cuma Aku lebih ganteng “ Jawab Ryansyah narsis.
---------
Jam pelajaran telah usai, Ryansyah mengantarkan Netta pulang karna memang jalannya searah dan sebagai langkah awal persahabatan mereka katanya. Selama di perjalanan, mereka bercanda hingga satu pernyataan aneh terlontar dari mulut Ryansyah.
“Netta, andaikan nanti aku mati kita bakalan tetap bersahabat kan? Kamu jangan lupa sama aku”
Netta tertegun mendengarnya.Apa maksudnya? Tapi Netta mencoba untuk berpikir positif dan menganggap omongan Ryansyah hanya bercanda.
Malam itu, Netta kepikiran terus dengan Ryansyah. Dia merasa gelisah. Apa yang terjadi pada sahabat barunya tersebut? Netta mencoba untuk menghubunginya tapi hasilnya nihil! Handphonenya tidak aktif, dengan terpaksa dia harus sabar menunggu hari esok untuk mengetahui keadaan Ryansyah sebenarnya. Netta menghempaskan tubuhnya di atas kasur nya. Dia berharap waktu berjalan lebih cepat!
Keesokan harinya, Netta buru-buru lari menuju sekolah, hari ini dia jalan kaki karna supir pribadinya sedang sakit. Dia tertegun ketika melihat hampir semua teman-temannya memasang wajah sedih, dan tak jarang juga yang menangis!
“Chels, ada apa ini?” Tanya Netta pada Chelsea teman barunya. Chelsea menangis sesenggukkan.
“Ryansyah Netta, Ryansyah… Kemarin saat pulang sekolah, Ryansyah mengalami kecelakaan dan meninggal dunia”
Deg! Netta seperti tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan Chelsea. Jantungnya serasa di tusuk-tusuk seribu jarum. Mengapa? Sahabat sekaligus cinta pertamanya yang sangat ia sayangi pergi secepat itu? Ternyata, kemarin adalah hari pertama sekaligus yang terakhir Netta bertemu dengan Ryansyah. Sungguh tak terbayang sebuah persahabatan singkat berakhir dengan tragis.
Netta membuka kaca jendela mobilnya dan melihat keluar. Hhh, Jakarta macet, begitulah pikirnya. Dia membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi di Sekolah barunya nanti.
"Semoga semua kan baik-baik saja" batin Netta yang kemudian melanjutkan acara melamunnya itu.
15 menit kemudian Netta telah sampai di gerbang sekolah barunya. Dia berjalan melewati lorong-lorong kelas, ternyata tak seburuk yang di pikirkannya, beberapa siswa tersenyum ramah kepadanya. Netta merasa lega.
Sesampainya di depan kelas, Netta masih tidak yakin itu kelasnya atau bukan, dia celingak-celinguk dan. . .
"BRUKK"
Netta terjatuh, dan dia berusaha secepatnya bangkit sebelum menjadi bahan tertawa anak-anak di kelas itu. Saat akan berdiri, seorang laki-laki mengulurkan tangannya untuk membantu Netta berdiri.
"Maaf ya, aku tadi buru-buru dan gak lihat kamu" ucap cowok yang menabraknya tersebut seraya membantu Netta berdiri.
"Iya gak apa, makasih ya" Jawab Netta tersenyum ramah pada anak laki-laki tersebut. Sosok tinggi, putih, ganteng juga manis itu berada dihadapan Netta persis.
"Eh, kamu anak baru rupanya, kenalin aku Ryansyah" ucap anak laki-laki tersebut yang ternyata bernama Ryansyah.
"Iya namaku Netta" Netta memperkenalkan dirinya pada Ryansyah. Entah mengapa Netta merasa grogi saat didekat Ryansyah. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Suatu kebetulan, Netta duduk di sebuah bangku kosong tepat di sebelah Ryansyah, karna, baru saja anak yang duduk bersama Ryansyah sebelum Netta pindah sekolah. Semua teman-teman di kelas itu tak perlu repot-repot berkenalan dengan Netta, karna jauh-jauh hari sebelumnya guru-guru sudah memberitahukan bahwa akan ada seorang anak baru pindahan dari Manado.
****
Bel istirahat berbunyi, Netta ingin sekali ke perpustakaan tapi ia tak tau dimana tempatnya.
“Syah, perpustakaan tempatnya dimana ya?” Netta bertanya pada Ryansyah yang sedang asyik ngumpul bareng teman-temannya.
“Enak aja panggil ‘Syah’! Namaku Ryansyah bukan Syah tau!” Omel Ryansyah pada Netta yang sebetulnya hanya bercanda. Netta cemberut mendengar omelan dari Ryansyah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Belum sempat ia pergi, Ryansyah segera mencegah Netta.
“Hey mau kemana? Cuma bercanda kali, gitu aja ngambek! Ayo aku antar, perpus di lantai dua” ajak Ryansyah sembari menarik Netta menuju lantai dua.
Sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar, dengan rak-rak buku yang tertata rapi disana. Banyak juga yang mengunjung perpustakaan saat istirahat ini. Termasuk Netta dan Ryansyah yang menghabiskan waktu istirahat untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka bersahabat seperti sudah lama sekali. Ryansyah memang anak yang supel dan mudah akrab dengan orang, karna itu juga dia terpilih sebagai ketua OSIS.
Netta mulai bosan dengan buku bacaanya dan mengajak Ryansyah untuk pergi ke kantin saja. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ke kantin.
”RYANSYAH!!!”
Beberapa anak perempuan berteriak histeris saat melihat Ryansyah, dengan ramahnya Ryansyah mengaggukkan kepala sambil tersenyum.
“Gila, kamu punya banyak fans ya di sekolah ini? Memang kamu artis atau penyanyi?” goda Netta pada Ryansyah yang terlihat malu-malu itu.
“Ahhh… apaan sih kamu, aku sama kok seperti yang lain. Cuma Aku lebih ganteng “ Jawab Ryansyah narsis.
---------
Jam pelajaran telah usai, Ryansyah mengantarkan Netta pulang karna memang jalannya searah dan sebagai langkah awal persahabatan mereka katanya. Selama di perjalanan, mereka bercanda hingga satu pernyataan aneh terlontar dari mulut Ryansyah.
“Netta, andaikan nanti aku mati kita bakalan tetap bersahabat kan? Kamu jangan lupa sama aku”
Netta tertegun mendengarnya.Apa maksudnya? Tapi Netta mencoba untuk berpikir positif dan menganggap omongan Ryansyah hanya bercanda.
Malam itu, Netta kepikiran terus dengan Ryansyah. Dia merasa gelisah. Apa yang terjadi pada sahabat barunya tersebut? Netta mencoba untuk menghubunginya tapi hasilnya nihil! Handphonenya tidak aktif, dengan terpaksa dia harus sabar menunggu hari esok untuk mengetahui keadaan Ryansyah sebenarnya. Netta menghempaskan tubuhnya di atas kasur nya. Dia berharap waktu berjalan lebih cepat!
Keesokan harinya, Netta buru-buru lari menuju sekolah, hari ini dia jalan kaki karna supir pribadinya sedang sakit. Dia tertegun ketika melihat hampir semua teman-temannya memasang wajah sedih, dan tak jarang juga yang menangis!
“Chels, ada apa ini?” Tanya Netta pada Chelsea teman barunya. Chelsea menangis sesenggukkan.
“Ryansyah Netta, Ryansyah… Kemarin saat pulang sekolah, Ryansyah mengalami kecelakaan dan meninggal dunia”
Deg! Netta seperti tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan Chelsea. Jantungnya serasa di tusuk-tusuk seribu jarum. Mengapa? Sahabat sekaligus cinta pertamanya yang sangat ia sayangi pergi secepat itu? Ternyata, kemarin adalah hari pertama sekaligus yang terakhir Netta bertemu dengan Ryansyah. Sungguh tak terbayang sebuah persahabatan singkat berakhir dengan tragis.
Cinta Semir Sepatu #part2
Lalu Angel pergi begitu saja meninggalkan Difa tanpa sepatah kata
pun. Difa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Antara bingung dan
merasa aneh. Aneh? entahlah apa yang terjadi dengannya. Ia segera
bangkit dari duduknya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba, Difa merasa perasaannya tidak enak, hmmm seperti ada yang membicarakannya . Ya Difa anaknya memang peka sehingga ia akan merasa terusik jika ada yang membicarakannya. Spontan Difa menoleh ke belakang, yang benar saja nampak Bagas dan Reza sedang terbahak-bahak.
"Kalian ini kenapa?" tanya Difa yang tiba-yiba sudah ada dihadapan Bagas dan Reza. Mereka berdua tersentak kaget dengan kemunculan Difa.
"Cewek tadi siapa sih? kok kayaknya akrab banget sama kamu" ujar Reza sambil menahan tawa. Bagas terkekeh dan menyikut pinggangnya.
"Lebih tepatnya di jutekkin cewek cantik itu" sambung Bagas sembil menunjuk ke arah Angel yang terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang via telepon.
"Oohh.. itu, aku juga gak tau, dia nya aja yg sok akrab sama aku." jawab Difa santai. Lagi-lagi Bagas dan Reza tertawa. Mereka berdua telah melihat semuanya dari awal.
"Ngomong-ngomong cewek itu cantik ya Dif" goda Reza pada Difa. Ia ingin tau apa jawaban temannya yang tidak pernah merasakan yang namanya Cinta itu.
"Iya Dif, bagaikan Bidadari jatuh dari surga. Mau kemana dia? loh kok menuju pintu keluar. Ikutin yuk" Bagas mengajak kedua temannya itu. Mereka membuntuti Angel secara diam-diam. Seolah-olah akan menculik atau merampoknya.
Setelah berjalan beberapa langkah, Difa melihat ada benda yang terjatuh dari tas Angel yang memang tidak tertutup rapat. Segera dipungutnya benda tersebut, ternyata sebuah sapu tangan berwarna ungu!
"Non, tunggu..." Teriak Difa mencegah langkah Angel. Sedangkan Bagas dan Reza? jamgan ditanya mereka hanya melongo saat melihat aksi temannya yg nekat itu. Ternyata masih gak kapok juga di jutekkin!
Angel menoleh ke arah Difa. Ia mendengus kesal. Difa lagi, Difa lagi. Bosan mendengar ocehan polosnya.
"Apa lagi sih? lo buntutin gue ya?" Tanya Angel dengan amat sangat jutek.
"Sapu tangannya jatuh Non Cantik" ucap Difa sembari menyerahkan sapu tangan ungu milik Angel. Perasaan aneh itu muncul lagi di benak Difa!
Angel mengambil sapu tangannya yg ada di tangan Difa. Tanpa sebgaja lagi. . . . kedua tangan mereka saling menggenggam! Angel merasa nyaman dan tenang berada di dekat cowok culun ini. Dia juga sepertinya tak rela untuk melepas genggamannya. Begitu pula Difa, ia merasa jantungnya berdegup begitu kencang, darahnya seakan-akan mengalir deras. Oh tuha, kenapa ini?
Mereka saling menatap satu sama lain. Aksi saling menatap tersebut menjadi tontonan orang2 yg sedang lalu lalang di stasiun. Dan ?????
Apa yang terjadi??
Tiba-tiba, Difa merasa perasaannya tidak enak, hmmm seperti ada yang membicarakannya . Ya Difa anaknya memang peka sehingga ia akan merasa terusik jika ada yang membicarakannya. Spontan Difa menoleh ke belakang, yang benar saja nampak Bagas dan Reza sedang terbahak-bahak.
"Kalian ini kenapa?" tanya Difa yang tiba-yiba sudah ada dihadapan Bagas dan Reza. Mereka berdua tersentak kaget dengan kemunculan Difa.
"Cewek tadi siapa sih? kok kayaknya akrab banget sama kamu" ujar Reza sambil menahan tawa. Bagas terkekeh dan menyikut pinggangnya.
"Lebih tepatnya di jutekkin cewek cantik itu" sambung Bagas sembil menunjuk ke arah Angel yang terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang via telepon.
"Oohh.. itu, aku juga gak tau, dia nya aja yg sok akrab sama aku." jawab Difa santai. Lagi-lagi Bagas dan Reza tertawa. Mereka berdua telah melihat semuanya dari awal.
"Ngomong-ngomong cewek itu cantik ya Dif" goda Reza pada Difa. Ia ingin tau apa jawaban temannya yang tidak pernah merasakan yang namanya Cinta itu.
"Iya Dif, bagaikan Bidadari jatuh dari surga. Mau kemana dia? loh kok menuju pintu keluar. Ikutin yuk" Bagas mengajak kedua temannya itu. Mereka membuntuti Angel secara diam-diam. Seolah-olah akan menculik atau merampoknya.
Setelah berjalan beberapa langkah, Difa melihat ada benda yang terjatuh dari tas Angel yang memang tidak tertutup rapat. Segera dipungutnya benda tersebut, ternyata sebuah sapu tangan berwarna ungu!
"Non, tunggu..." Teriak Difa mencegah langkah Angel. Sedangkan Bagas dan Reza? jamgan ditanya mereka hanya melongo saat melihat aksi temannya yg nekat itu. Ternyata masih gak kapok juga di jutekkin!
Angel menoleh ke arah Difa. Ia mendengus kesal. Difa lagi, Difa lagi. Bosan mendengar ocehan polosnya.
"Apa lagi sih? lo buntutin gue ya?" Tanya Angel dengan amat sangat jutek.
"Sapu tangannya jatuh Non Cantik" ucap Difa sembari menyerahkan sapu tangan ungu milik Angel. Perasaan aneh itu muncul lagi di benak Difa!
Angel mengambil sapu tangannya yg ada di tangan Difa. Tanpa sebgaja lagi. . . . kedua tangan mereka saling menggenggam! Angel merasa nyaman dan tenang berada di dekat cowok culun ini. Dia juga sepertinya tak rela untuk melepas genggamannya. Begitu pula Difa, ia merasa jantungnya berdegup begitu kencang, darahnya seakan-akan mengalir deras. Oh tuha, kenapa ini?
Mereka saling menatap satu sama lain. Aksi saling menatap tersebut menjadi tontonan orang2 yg sedang lalu lalang di stasiun. Dan ?????
Apa yang terjadi??
Cinta Semir Sepatu #part1
Suara Ayam berkokok mulai membangunkan seluruh insan di negeri ini.
Mentari pun telah menampakkan sinarnya. Orang-orang memulai
aktifitasnya. Begitu juga Difa, dia sedang asik membereskan kotak semir
sepatunya, sebentar lagi dia akan berangkat bekerja.
KRING-KRING
"Difa ayo kita berangkat!" teriak Bagas dari kejauhan sambil membunyikan bel sepedanya.
"Iya sebentar!" jawab Difa dari dalam rumahnya. Difa segera mengambil sisir hitam dan menyisir rambutnya hingga klimis. Lalu merapikan pakaiannya. Dan kini Difa siap untuk bekerja. Dirumah Difa tak ada siapa-siapa. Ayahnya telah berangkat melaut pagi-pagi buta. Sedangkan ibunya berangkat ke pasar untuk berjualan ikan hasil tangkapan ayah Difa.
"Ayo kita berangkat!" ajak Difa yang baru saja keluar dari rumah sederhananya itu.
"Lama banget sih,, buruan yoo naik!" Bagas menggerutu kesal pada sahabatnya itu. Difa segera naik di boncengan sepeda Bagas.
Bagas mengayuh sepeanya dengan semangat, sangking semangatnya, Bagas tak melihat jika ada sebuah batu lumayan besar didepannya. Diterjangnya batu tersebut, membuat mereka jatuh terperosok ke dalam parit. Nasib baik parit tersebut kering, kalau tidak,, ya nasib mereka lah itu..
"Ahh... Gemblog! gimana sih kamu! Aduh sakit nih" Difa merintih kesakitan.
"Huh.. Bawel kamu, aku juga sakit tau!" Tukas Bagas yang sebenarnya lebih menjuru ke pembelaan diri. Mereka segera bangkit dan melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka adalah stasiun kereta api.
@Stasiun kereta api
"Dif, mencar ya, aku kesana dan kamu kesitu. Nanti ketemuan disini!" Bagas memberi instruksi. Difa mengangguk-anggukan kepalanya. Difa berjalan agak pincang, karena kakinya sedikit keseleo saat jatu tadi. Ditatapnya satu-persatu kaki orang-orang yang lalu lalang. Hampir semua menggunakan sepatu kets! Difa mulai putus asa dan memutuskan untuk duduk di kursi tunggu.
------------------------
"Pa, bisa anter Angel gak? anterin ya pa? please?" rengek Angel meminta antar pada papanya.
"Papa sibuk, kamu kan sudah besar naik kereta api ajadeh, biar Papa anter ke stasiun. Ucap Papa Angel. Angel cemberut dan hanya bisa pasrah.
------------------------
Tanpa sadar, Difa tertidur di kursinya. Sedangkan Angel juga sudah sampai di stasiun, dia duduk disebelah tukang semir sepatu, yaitu Difa! Angel mengeluarkan Ipadnya, tak sengaja, kepala Difa jatuh(?) di pundak Angel.
"Idih.. apaan sih lo? sana!" tukas Angel sambil menjauhkan tubuh Difa darinya. Difa terbangun dan mendapati seorang gadis cantik disebelahnya.
"Ada apa non?" tanya Difa polos. Angel menoleh jutek ke arah Difa, tanpa menjawab pertanyaannya, dia kembali asik dengan ipadnya.
Difa melihat takjub benda yang dipegang Angel.
"Ini apa toh non? keren banget ya, tinggal di 'sret-sret'(?) udah gerak. ckckck... canggih" Difa berdecak kagum.
"Aduhh... Parjo, lo hidup di zaman prasejarah ya? Ipad aja gak ngerti!" ledek Angel yang seenaknya menyebut Difa dengan nama 'Parjo'.
"Non, nama saya Difa bukan Parjo!" Ucap Difa membenarkan. Angel tertawa menengar pernyataan Difa.
"Lo itu harus ganti penampilan, namanya Difa,, wihhh keren, tapi penampilan culun begini" Lagi-lagi Angel meledek Difa. Difa hanya tersenyum.
"Non mau kemana?sambil nunggu kereta bagaimana kalau sepatunya saya semir dulu?" Difa menawarkan jasanya. Angel melirik kesal pada Difa.
"Lo lihat dulu sepatu gue!" semir-semir! enak aja lo!" omel Angel. Difa melihat sepatu Angel.
"Ya mungkin aja Non bosen warna ungu dan ingin ganti warna hitam" ujar Difa polos.
Lalu???????
KRING-KRING
"Difa ayo kita berangkat!" teriak Bagas dari kejauhan sambil membunyikan bel sepedanya.
"Iya sebentar!" jawab Difa dari dalam rumahnya. Difa segera mengambil sisir hitam dan menyisir rambutnya hingga klimis. Lalu merapikan pakaiannya. Dan kini Difa siap untuk bekerja. Dirumah Difa tak ada siapa-siapa. Ayahnya telah berangkat melaut pagi-pagi buta. Sedangkan ibunya berangkat ke pasar untuk berjualan ikan hasil tangkapan ayah Difa.
"Ayo kita berangkat!" ajak Difa yang baru saja keluar dari rumah sederhananya itu.
"Lama banget sih,, buruan yoo naik!" Bagas menggerutu kesal pada sahabatnya itu. Difa segera naik di boncengan sepeda Bagas.
Bagas mengayuh sepeanya dengan semangat, sangking semangatnya, Bagas tak melihat jika ada sebuah batu lumayan besar didepannya. Diterjangnya batu tersebut, membuat mereka jatuh terperosok ke dalam parit. Nasib baik parit tersebut kering, kalau tidak,, ya nasib mereka lah itu..
"Ahh... Gemblog! gimana sih kamu! Aduh sakit nih" Difa merintih kesakitan.
"Huh.. Bawel kamu, aku juga sakit tau!" Tukas Bagas yang sebenarnya lebih menjuru ke pembelaan diri. Mereka segera bangkit dan melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka adalah stasiun kereta api.
@Stasiun kereta api
"Dif, mencar ya, aku kesana dan kamu kesitu. Nanti ketemuan disini!" Bagas memberi instruksi. Difa mengangguk-anggukan kepalanya. Difa berjalan agak pincang, karena kakinya sedikit keseleo saat jatu tadi. Ditatapnya satu-persatu kaki orang-orang yang lalu lalang. Hampir semua menggunakan sepatu kets! Difa mulai putus asa dan memutuskan untuk duduk di kursi tunggu.
------------------------
"Pa, bisa anter Angel gak? anterin ya pa? please?" rengek Angel meminta antar pada papanya.
"Papa sibuk, kamu kan sudah besar naik kereta api ajadeh, biar Papa anter ke stasiun. Ucap Papa Angel. Angel cemberut dan hanya bisa pasrah.
------------------------
Tanpa sadar, Difa tertidur di kursinya. Sedangkan Angel juga sudah sampai di stasiun, dia duduk disebelah tukang semir sepatu, yaitu Difa! Angel mengeluarkan Ipadnya, tak sengaja, kepala Difa jatuh(?) di pundak Angel.
"Idih.. apaan sih lo? sana!" tukas Angel sambil menjauhkan tubuh Difa darinya. Difa terbangun dan mendapati seorang gadis cantik disebelahnya.
"Ada apa non?" tanya Difa polos. Angel menoleh jutek ke arah Difa, tanpa menjawab pertanyaannya, dia kembali asik dengan ipadnya.
Difa melihat takjub benda yang dipegang Angel.
"Ini apa toh non? keren banget ya, tinggal di 'sret-sret'(?) udah gerak. ckckck... canggih" Difa berdecak kagum.
"Aduhh... Parjo, lo hidup di zaman prasejarah ya? Ipad aja gak ngerti!" ledek Angel yang seenaknya menyebut Difa dengan nama 'Parjo'.
"Non, nama saya Difa bukan Parjo!" Ucap Difa membenarkan. Angel tertawa menengar pernyataan Difa.
"Lo itu harus ganti penampilan, namanya Difa,, wihhh keren, tapi penampilan culun begini" Lagi-lagi Angel meledek Difa. Difa hanya tersenyum.
"Non mau kemana?sambil nunggu kereta bagaimana kalau sepatunya saya semir dulu?" Difa menawarkan jasanya. Angel melirik kesal pada Difa.
"Lo lihat dulu sepatu gue!" semir-semir! enak aja lo!" omel Angel. Difa melihat sepatu Angel.
"Ya mungkin aja Non bosen warna ungu dan ingin ganti warna hitam" ujar Difa polos.
Lalu???????
Rabu, 15 Januari 2014
Awal petualangan DifAngeLang :P
“Apa yang akan kita lakukan
diliburan kali ini?” Tanya Difa malas. “Uhh membosankan”
Angel dan Gilang mengangkat kedua bahunya membuat
Difa memutar malas bola matanya.
Ya, ketiga sahabat ini, Difa, Angel dan Gilang
selalu mempunyai ide-ide gila untuk menghabiskan waktu liburan. Saat liburan
semester kemarin saja mereka pergi berkemah di suatu tempat yang sama sekali
tidak mereka kenal. Letaknya sangat jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Dan tentu saja tanpa
izin dari orang tua mereka. Difa izin pada pamannya akan menginap dirumah
Gilang.
Sebenarnya sejak berumur 5 tahun
Difa tidak bersama orang tuanya, ia tinggal bersama kakeknya. Difa sendiri
tidak tau orang tuanya dimana. Kata kakeknya, ia akan tau sendiri jika nanti
waktunya.
Saat berusia 9 tahun Difa diambil
oleh Pamannya yang bernama Rio, katanya ia merasa
kesepian selepas berpisah dengan Ify istrinya. Dan hingga saat ini Difa tinggal
bersama Rio.
Kembali pada Difa, Angel dan Gilang
yang sibuk merencanakan hal untuk dilakukan saat liburan. Mereka ramai sendiri
di kamarnya Difa, sesaat ketika Gilang tiba-tiba melihat sebuah kotak kecil di
sudut kamar Difa.
“Dif, itu kotak apa?” Tanya Gilang penasaran.
“Sepertinya tak pernah kulihat”
Difa tertegun mendengar pertanyaan
dari Gilang, ia mengambil kotak tersebut.
“Apa kalian tau” ucap Difa serius. “ Selama ini
aku selalu menanyakan angka-angka yang menurut kalian tidak penting, inilah
alasannya!”
Angel dan Gilang bingung mendengar ucapan Difa,
mereka membolak-balik
kotak
berukuran sedang itu penasaran.
“Apa maksudnya Dif?” Tanya Angel.
“Dan apa hubungannya dengan angka-angka yang sering kau bicarakan?”
“Ingatkah kalian dengan Oca?” Difa
mulai bercerita. “Ya dia adikku yang telah lama hilang, juga kedua orang tuaku!
Pamanku yang memberiku ini! dia bilang di dalam kotak ini terdapat petunjuk
untuk menemukan Oca, dan mungkin juga Orang tuaku. Dan angka yang tertera di
kunci kotak ini pertama kali adalah 9, 4, 8 dan 5.
Tiba-tiba saja, Gilang teringat akan
sesuatu. Ia mengeluarkan secarik kertas yang dilipat-lipat kecil dari kantong
celananya.
“Lihatlah ini!” perintah Gilang
sambil membuka kertas tersebut.
Difa dan Angel memperhatikan
baik-baik kertas tersebut, ya terdapat angka 9, 4, 8, dan 5. sama persis dengan
angka di kunci yang terdapat pada kotak milik Difa.
“Darimana kau dapat ini?” Tanya
Difa. Gilang terlihat seperti kebingungan, tingkahnya mendadak jadi aneh.
“Emm, ini aa anu” Jawab Gilang
gugup. “Aku tak sengaja menemukannya saat kita berkemah”
“Coba kalian perhatikan!” ujar Difa
bersemangat. “Dibawah angka 9, 4, 8, 5 terdapat kata ping yag berarti dikali!
Jika angka-angka tersebut kita kalikan didapat hasil 1440, ya mungkin itulah
kuncinya! Tulisan yang lain tidak bisa dibaca”
Dengan semangat Difa memutar
anka-angka tersebut menjadi 1440 dan yes kotaknya terbuka! Isinya sebuah
gulungan kertas dengan pita berwarna merah. Perlahan Difa membuka gulungn
kertas tersebut. Di dalamnya terdapat tulisan sebagai berikut :
“
Difa, oh pasti saat membaca ini kau sudah besar. Dan kau sudah lama tidak
bertemu dengan Orang tua dan adikmu! Jika kau ingin mereka selamat, temukan
petunjuk keberadaan mereka! Tetapi nyawamu lah taruhannya! Agar aku bisa
membalas apa yang telah Ayahmu lakukan padaku! Jika kau memang cerdas, ini
hanyalah masalah kecil untukmu, jangan terlalu mempercayai sahabatmu!”
Setelah membacanya, mereka saling
berpandangan, siapa sebenarnya yang menculik Oca dan Orang tua Difa? Ini aneh,
terlalu sulit untuk diterima akal sehat.
“Tunggu dulu!” ucap Angel. “Dari
mana pamanmu mendapat peti ini? Kurasa ia juga ada kaitannya dengan
penculik-penculik tersebut”
“Aku tak pernah menanyakan itu
sebelumnya” jawab Difa. “Iya juga, kenapa tak terpikirkan pertanyaan itu olehku
sebelumya?”
“Hancurkan saja kotak beserta isinya
ini!” ucap Gilang menyela. “Kau tidak ingin mati muda kan?”
“Kau gila?” ucapan Difa meninggi. “Bagaimana orang tua dan
juga adikku? Sudahlah, jika kau tak ingin membantu aku tak memaksa!”
“Maaf Dif” ucap Gilang menyesal.
“Aku akan membantumu!”
Mereka bertiga sibuk memikirkan
kira-kira apa petunjuk yang diberikan dari kedua benda aneh tersebut. Setelah
lama mencari, merekapun akhirnya kesal!
“Lebih baik kita keluar saja duli”
ajak Difa. “Akan kutraktir es krim.”
Gilang dan Angel bersemangat ketika
mendengar kata traktir. Merekapun bergegas keluar dan menaiki sepeda
masing-masing.
Setelah kurang lebih 10 menit,
mereka sampai di sebuah kedai es krim yang tidak terlalu ramai. Difa, Angel dan
Gilang segera memasukinya.
“Hay Difa!” sapa seseorang tiba-
tiba.”Lama tidak berjumpa kau semakin tampan saja” :p
“Hay Chelsea” balas Difa kepada
orang tersebut yang ternyata bernama Chelsea.
“Kau juga semakin cantik!’” :o
Angel yang melihat pemandangan
tersebut tidak enak. Perasaan cemburu mulai merasuki hati dan pikirannya.
Tetapi kemudian ia sadar, Difa adalah sahabatnya. Tak sepantasnya ia cemburu.
“Sstt Dif!” bisik Gilang. “Itu
siapa? Cantik amat. Dan lihatlah Angel, mukanya tiba-tiba saja merah begitu!
Kepiting rebus saja kalah merah dengan mukanya!”
Ternyata benar kata Gilang, Difa
terkekeh melihat wajahnya Angel yang tiba-tiba saja memerah.
“Ngomong-ngomong kalian ingin
membeli es krim?” Tanya Chelsea ramah.
“Oh iya” jawab Gilang segra. “Tentu
saja Nona cantik, kami pesan tiga”
“Segera” ucap Chelsea. “Kalian duduk saja dulu,”
Chelsea segera masuk ke dalam menyiapkan es
krim untuk mereka.
“Difa, sepertinya kau kenal dekat
dengan Chelsea.” Ucap Gilang. “Kau tak pernah bercerita jika mempunyai teman secantik
dia”
“Haha, tentu saja aku kenal dekat
dengan Chelsea”
ucap Difa sambil tertawa. “Dulu, Mamakenal dekat dengan mamanya Chelsea.. Kami seperti
saudara. Dannn. . . Hey Angel kenapa kau diam saja?”
Angel hanya menggelengkan kepala dan
berusaha tersenyum, perasaannya tidak enak.
“Kurasa dia cemburu” ucap Gilang
seenaknya. Angel langsung menendang kaki Gilang kuat-kuat membuat Gilang
kesakitan.
Tak lama kemudian, Chelsea datang membawa nampan berisikan tiga
mangkuk es krim. Ia ikut bergabung dengan tiga sahabat itu.
“Oh Chelsea,” ucap Difa selepas menyendok es
krimnya. “Dari dulu es krim di kedai ini rasanya enak. Tidak ada yang berubah”
“Ya ya aku ingat ketika kau dulu
sering sekali kemari membeli es krim dan meminta diskon saat akan membayar!” ucap
Chelsea sambil mengingat-ingat
masa lalunya. Difa tertawa mendengarnya.
“Oh iya Chels.” Ucap Difa menyela.
“Kenalkan ini Gilang dan Angel sahabatku”
“Hallo, Angel, Gilang “ Ucap Chelsea
ramah.
Angel tersenyum dan menjabat tangan Chelsea. Sedangkan Gilang,
jangan ditanya, dia sama sekali tidak berkedip melihat wajah Chelsea yang mempesona.
“Chels, sebenarnya kami sedang
bingung dan stress” ucap Difa serius. “Kami sedang merencanakan sesuatu yangb
esar dan sangat rahasia”
“Wow, rencana apa Difa?” Tanya
Chelsea penasaran.
“Kami akan mencari Oca dan Mama
Papaku” ucap Difa pelan. “Kau ingatkan dengan kotak yang waktu itu ku tunjukkan
padamu? Aku berhasil membukanya, dan ini adalah isinya”
Chelsea membaca kertas yang diberikan Difa.
Ia terkejut selepas membaca isinya. Sejenak Chelsea terdiam seperti
mengingat-ingat sesuatu.
“Kenapa kau diam?” Tanya Difa
membuyarkan lamunan Chelsea.
“Bagaimana menurutmu?”
“Sebaiknya kalian lapor polisi saja”
Chelsea
memberikan masukan. “Aku tak ingin kalian kenapa-kenapa”
“Begini Chelsea” Kini Angel angkat
bicara. “Semenjak kejadian itu, kami semua sudah lapor pada polisi, tapi apa
yang terjadi? Sampai sekarang polisi pun tak bisa melacak jejak penculik
tersebut!”
“Benar kata Angel Chels” ucap Difa.
“Terima kasih sarannya tapi kami akan tetap mencari”
“Baiklah-baiklah” ucap Chelsea mengalah
“Hati-hati ya, semoga berhasil”
“Sekali lagi, terimakasih ya. Kami
pamit dulu. Daann. . . oh iya lupa bayar “ Dfa berpamitan dan menyerahkan
beberapa lembar uang rupiah pada Chelsea.
“Kali ini gratis” Ucap Chelsea sambil nyengir
kuda.
“Really?” Tanya Difa meyakinkan
“Terimakasih Chelsea imut”
“Thanks Chels” ucap Angel. “Kapan-kapan
kami mampir lagi ya”
“Silahkan saja, aku yang berterima
kasih harusnya” ucap Chelsea
senang.
“Sampai jumpa Chelsea
cantik” ucap Gilang dengan gaya
sok cool-nya. Difa, Angel dan Gilang berlalu dari pandangan Chelsea.
“Sekarang kita kemana?” Tanya Angel
tak sabar. “Kita belum menemukan petunjuk untuk menyelamatkan Adik serta Orang
tuamu”
“Sabarlah Angel cantik! Kita
kerumahku lagi, tanyakan pada Paman” Ujar Difa.
****
Sesampainya di rumah Difa, mereka
segera memasuki ruang tengah dimana ada Rio
disana.
“Kami berhasil membuka petinya” ucap
Difa sembari memberikan kertas tadi. “Apa yang harus kami lakukan sekarang?”
“Lihatlah ini” ucap Rio menyodorkan sebuah peta. Ia membukanya. “Kalian harus
kesini untuk menemukan markas penculik”
Difa, Angel dan Gilang memperhatikan
dengan seksama lokasi yang ditunjuk Rio.
Seperttinya tidak asing bagi mereka.
“Ini kan tempat kami berkemah saat liburan
kemarin? Kalau ini aku masih ingat betul”
“Sebaiknya, kalian kesana saat malam
ini saja., ya secepatnya!” perintah Rio.
“Paman kenapa bisa tau semuanya?
Peta ini, juga kotak itu. Kalau begitu tinggal serahkan pada polisi saja kan?” Tanya Difa mulai
curiga.
“Memangbegitu aturan mainnya Difa!”
Ucap Rio sewot. “Kalau dilanggar akan membahayakanmu!”
“Memang paman kenal dengan
penculiknya Oca?” Tanya Angel lebih curiga :p
“Kau tidak ingat? Saat kejadian itu,
aku kan
disekap oleh sekumpulan penculik itu lalu mereka membawa orang tua beserta
adikmu! Sebelum akhirnya pergi ada kotak yang terjatuh di halaman rumah beserta
peta ini!”
“Wow, paman ceritamu sungguh
bertolak belakang dengan cerita kakek” ucap Difa semakin curiga pada Rio.
“Ya tentu saja!” Tukas Rio kesal.
“Kakekmu sudah pikun! Ahh sudahlah tuan tampan yang banyak bertanya, lebih baik
kau bersiap-siap saja! Aku tak bisa mengantarmu nanti, karna ada urusan. Dan. .
. Oh ya Angel lebih baik kau tak usah ikut”
“Tentu aku harus ikut!” Ucap Angel
membantah. “Kami kan
3 sahabat, susah senang akan kami lalui bersama!”
“Wuahh dasar anak-anak berkepala
batu!” sindir Rio. “Sudah aku mau istirahat,
jangan ada yang mengganggu!”
Rio
pun berlalu dari pandangan mereka bertiga, ia segera masuk kekamarnya.
Sedangkan Difa, Angel dan Gilang menyusun rencana untuk keberangkatan sore hari
nanti.
“Baiklah, semua sudah beres” Ucap
Difa dengan penuh gairah. “Kembalilah nanti sore, dan jangan lupa bawa
barang-barang yang sudah dicatat!”
Selepas berdiskusi, Angel dan Gilang
pulang sebentar untuk bersiap-siap, begitu pula Difa, ia memasukkan
barang-barang yang akan dibawanya ke dalam ransel. Saat Difa ingin beristirahat
sejenak, tiba-tiba saja ia teringat akan kotak yang baerhasil ia buka tadi. Ya
kotak itu sudah tidak ada lagi! Difa mencari di setiap sudut kamarnya tetap
juga tidak ditemukan.
“Kemana ya kotaknya?” ucap Difa
sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya bingung. “Tak mungkin pula kotak
tersebut jalan sendiri -_-. Tapi masa bodohlah, yang penting kudapatkan
petunjuknya”
@Sore
harinya, di rumah Difa lagi-lagi
“Bagaiamana? Barang bawaan semua
sudah siap?” tanyaDifa bersemangat.
“Sudah siap kapten!” jawab Angel da
Gilang serempak.
“Biklah, kalau begitu kita berangkat
saja!” ajak Difa sambil berjalan keluar.
“Sebelum hari mulai gelap”
“Hey tunggu dulu Dif, Ngel apa
kalian tida A A A A. . . .” Gilang tiba-tiba saja berteriak. Difa dan Angel
terkejut ketika mendaoati Gilang yang jatuh terpeleset.
Dengan segera, Difa dan Angel
membantu Gilang untuk berdiri. Gilang meringis kesakitan memegangi pinggangnya.
Disitu ada tumpahan minyak yang membuat Gilang terpeleset.
“Yah, kalau sudah begini kau tak
bisa ikut” ucap Angel yang sedang membantu Gilang berjalan.
“Kami akan mengantarmu pulang” ucap
Difa. “Ohh pasti sakit”
“Sepertinya aku tidak apa-apa” ucap
Gilang pelan. Difa pun melotot ke arahnya. “Ya ya baiklah, aku tak akan ikut,
tak perlu repot-repot mengantarku, rencananya akan gagal! Semoga berhasil ya”
Gilang berjalan meninggalkan Difa
dan Angel sambil berjalan pincang.
“Ya sudah mari kita berangkat!” Ucap
Angel yang kini bersemangat
Difa dan Angel memutuskan untuk naik
bus, selain ini sudah sore dan letaknya lokasinya jauh, mereka juga tidak berniat
membawa sepeda. Karena mungkin akan repot jika harus sembunyi-sembunyi ketika
dekat dengan markas penculik.
“Mengapa tiba-tiba ada minyak tumpah
di teras rumahmu?” Tanya Angel yang baru saja duduk di dalam bus.
“Entahlah” jawab Difa. “Aku sedari
tadi hanya dikamar”
****
Perjalanan itu memakan waktu kurang
lebih 1 jam, ya beda cerita ketika jalanan macet.
Difa juga diam-diam memperhatikan
Angel yang duduk disampingnya. Ia sangat bangga dengan sahabatnya yang satu
ini. Selain cantik, Angel juga pintar, baik dan berani.
“Hey Dif?” ucap Angel membuyarkan
pandangan Difa. “Ada
apa denganmu?”
“Tidak kok” ucap Difa berdusta.
“Ngomong-ngomong, kalungmu baru ya?”
“Ohhh ini, tidak” jawab Angel “Aku
menemukannya saat tadi di depan kedai es krim miliknya Chelsea. Sangat persis dengan milik Papaku.
Liontin berbentuk huruf A, cocok untuk namaku Angel kan?”
“Haha.. Ya ya sangat cocok sekali”
ucap Difa sambil tertawa. “Kau ini ada-ada saja”
Tidak terasa telah sampai, mereka
turun di sebuah tempat yang mirip halte tetapi tidak berupa halte. Difa dan
Angel sama-sama tercengang melihat pemandangan itu. Mereka mengedarkan
pandangan, sungguh tempat ini sangat berubah dari terakhir mereka datang kemari
saat sekitar 6 bulan yang lalu.
Difa dan Angel berjalan dari halte
tersebut kearah utara. Tak jauh, terlihat sebuah papan penunjuk jalan
bertuliskan Hallstone 9485. Hari sudah semakin gelap, akhirnya Difa
mengeluarkan senternya. Ya walaupun tidak terlalu terang, setidaknya ada cahaya
untuk menerangi jalan mereka.
Sesuai dengan namanya, bukit
tersebut memang berbatu-batu, padahal kemarin dulu saat mereka kesini jalannya
masih rata dengan tanah, bukan rata dengan bebatuan. Ini bukit tapi lebih
nampak seperti hutan.
Sampai ditengah, mereka lupa
jalannya, ada sebuah pohon besar di dekat mereka yang sama sekali tidak mereka
ingat. Angel mengambil peta dalam ranselnya.
Sial
sekali ketika saat itu tangannya menyenggol tangan Difa sehingga senternya
terlepas jatuh dan mati!
“Aduuuhh” Pekik Angel. “Yah maaf
Dif, senternya mana pula nih!”
Mereka mencai-cari senternya yang
mungkin sudah menggelinding entah kemana. Disana sangat gelap, hanya di cahaya
rembulan yang memadangi tempat tersebut. Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi ‘jeduk’.
Yahh kepala Difa dan Angel saling terbentur.
“Uhh sakit Ngel!” Tukas Difa. “Aku
tak tau jika kau berada dekat sekali denganku”
Tiba-tiba saja terlihat dari
kejauhan sebuah cahaya remang-remang yang semakin lama semakin mendekat kearah
Difa dan Angel. Mereka segera berlari sembunyi di balik pohon besar.
Cahaya
itu berasal dari sebuah obor yang dibawa oleh seorang laki-laki memakai jaket
kulit dan topi.
“Sepertinya
tadi terdengar suara orang” ucap lelaki tersebut yang kemudian berbalik dan
meninggalkan tempat tersebut
“Ayo
kita ikuti dari belakang” bisik Difa dan menarik tangan Angel. Mereka
mengendap-endap mengikuti laki-laki tersebut.
Akhirnya
lelaki tersebut sampai disebuah rumah besar bernomor 1440, disamping rumah
tersebut, berjajar mobil pick up yang diantaranya Difa dan Angel kenal. Mereka
menunggu situasi aman untuk menyelidiki rumah tersebut. Setelah dirasa aman,
mereka berjalan ke belakang rumah tersebut, ada pintu yang tidak tertutup
rapat. Mereka mengintip kedalam. Itu adalah dapur, dan seketika mata Difa
membola saat melihat seorang wanita yang berada di dapur tersebut.
“Mama?”
ucap Difa spontan. Wanita tersebut langsung menoleh ke asal suara. Ya ternyata
benar, ia adalah Shilla, Mamanya Difa! Shilla tercengang ketika melihat 2 bocah
tersebut. Difa yang sudah sangat merindukan ibundanya sontak menubruk wanita
paruh baya itu.
“Ma,
masih ingatkah denganku?” Tanya Difa yang masih memeluk Shilla.
“Iya
saying sangat ingat!” Jawab Shilla terharu. “Mengapa kau kemari nak? Disini
sangat bahaya.!”
Difa
seakan tak peduli dengan penculik yang menawan orang tua beserta adiknya itu.
Yang penting ia sudah bersama Mamanya!
“Ada ribut-ribut apa
disini?” teriak seseorang yang tiba-tiba yang mengejutkan Shilla, Difa juga
Angel.
“Papa,
kenapa kau bisa disini?” Tanya Angel tak percaya saat melihat Alvin yang tiba-tiba muncul.
“Seharusnya aku yang
bertanya seperti itu anak bandel!” ucap Alvin
galak. “Bukankah sudah kukatakan jangan bermain dengan anak ini!”
“Jadi ini alasanmu tak
pernah pulang kerumah? Tega sekali kau!” ucap Angel mulai marah.
“Diam kau anak kecil! Rio
cepatlah kemari!” teriak Alvin.
Lagi-lagi Difa dan Angel dibuat terkejut ketika Rio
datang!
“Bawalah mereka ke dalam!”
perintah Alvin.
“Jangan lupa diikat!”
Rio dengan sigap membawa
mereka bertiga masuk. Diruang tengah sudah ada Cakka dan Oca yang diikat. Kini
Difa Shilla dan Angel yg diikat,.
“Keterlaluan!” ucapan Difa
meninggi. “Mau apa kau dengan keluargaku?”
Alvin dan Rio
tertawa saat mendengar pertanyaan Difa.
“Kau tau, Papamu telah
menghancurkan kehidupan kami! Untuk itu kami ingin membalas dendam pada kalian
semua!” Ucap Alvin sambil terkekeh.
“Papa tidak mungkin
seperti itu!” bantah Difa membela Cakka.
“Heyy kau piker siapa yang
memberi kode untuk membuka kotak yang
pernah kuberikan padamu?” Kini Rio turut bicara. “Sahabatmu Gilang kan? Dia mengkhianatimu
hanya untuk beberapa lembar uang rupiah. Dan diapa yang menumpahkan minyak
didepan rumah saat tadi kau akan berangkat? Itu supaya Angel tidak ikut kemari
denganmu, ternyata malah Gilang yang kena. Satu lagi kawan perempuanmu si
pemilik kedai es krim, dia juga banyak memberi kami informasi. Itu semua agar
kau tak curiga pada kami!”
Pintu yang semula tertutup
tiba-tiba saj terdobrak, polisi datang bersama Gilang!
“Dia tidak curiga” uacap
salah satu polisi. “Tapi kami yang curiga sejak dulu”
Rio dan Alvin seakan tak bisa berkutik, polisi-polisi
tersebut segera mengepung mereka dan membawanya. Angel membuang muka ketika Alvin dibawa polisi.
Ternyata Gilang lah yang melapor pada polisi,
ia membantu melepaskan ikatan pada Difa, Angel, Cakka, Shilla dan juga
Oca.
“Thanks Gilang” ucap Difa sambil tersenyum.
“Maaf
ya Difa masalah itu. . .” ucap Gilang menyesal.
“Tak
apa Lang, “ Jawab Difa, “Dann.. Papa, sebenarnya apa yang terjadi? Aku sangat
rindu pada kalian semua!”
“Papa
juga rindu padamu nak!” jawab Cakka, “Ceritanya dirumah saja yaa, dan Angel
kamu yang sabar ya nak”
Akhirnya
keluarga Difa pun bersatu kembali, sedangkan Angel sudah dianggap anak sendiri
oleh Cakka dan Shilla. Gilang pun juga berjanji tidak akan mengkhianati
sahabatnya lagi! :p
Langganan:
Komentar (Atom)