“Apa yang akan kita lakukan
diliburan kali ini?” Tanya Difa malas. “Uhh membosankan”
Angel dan Gilang mengangkat kedua bahunya membuat
Difa memutar malas bola matanya.
Ya, ketiga sahabat ini, Difa, Angel dan Gilang
selalu mempunyai ide-ide gila untuk menghabiskan waktu liburan. Saat liburan
semester kemarin saja mereka pergi berkemah di suatu tempat yang sama sekali
tidak mereka kenal. Letaknya sangat jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Dan tentu saja tanpa
izin dari orang tua mereka. Difa izin pada pamannya akan menginap dirumah
Gilang.
Sebenarnya sejak berumur 5 tahun
Difa tidak bersama orang tuanya, ia tinggal bersama kakeknya. Difa sendiri
tidak tau orang tuanya dimana. Kata kakeknya, ia akan tau sendiri jika nanti
waktunya.
Saat berusia 9 tahun Difa diambil
oleh Pamannya yang bernama Rio, katanya ia merasa
kesepian selepas berpisah dengan Ify istrinya. Dan hingga saat ini Difa tinggal
bersama Rio.
Kembali pada Difa, Angel dan Gilang
yang sibuk merencanakan hal untuk dilakukan saat liburan. Mereka ramai sendiri
di kamarnya Difa, sesaat ketika Gilang tiba-tiba melihat sebuah kotak kecil di
sudut kamar Difa.
“Dif, itu kotak apa?” Tanya Gilang penasaran.
“Sepertinya tak pernah kulihat”
Difa tertegun mendengar pertanyaan
dari Gilang, ia mengambil kotak tersebut.
“Apa kalian tau” ucap Difa serius. “ Selama ini
aku selalu menanyakan angka-angka yang menurut kalian tidak penting, inilah
alasannya!”
Angel dan Gilang bingung mendengar ucapan Difa,
mereka membolak-balik
kotak
berukuran sedang itu penasaran.
“Apa maksudnya Dif?” Tanya Angel.
“Dan apa hubungannya dengan angka-angka yang sering kau bicarakan?”
“Ingatkah kalian dengan Oca?” Difa
mulai bercerita. “Ya dia adikku yang telah lama hilang, juga kedua orang tuaku!
Pamanku yang memberiku ini! dia bilang di dalam kotak ini terdapat petunjuk
untuk menemukan Oca, dan mungkin juga Orang tuaku. Dan angka yang tertera di
kunci kotak ini pertama kali adalah 9, 4, 8 dan 5.
Tiba-tiba saja, Gilang teringat akan
sesuatu. Ia mengeluarkan secarik kertas yang dilipat-lipat kecil dari kantong
celananya.
“Lihatlah ini!” perintah Gilang
sambil membuka kertas tersebut.
Difa dan Angel memperhatikan
baik-baik kertas tersebut, ya terdapat angka 9, 4, 8, dan 5. sama persis dengan
angka di kunci yang terdapat pada kotak milik Difa.
“Darimana kau dapat ini?” Tanya
Difa. Gilang terlihat seperti kebingungan, tingkahnya mendadak jadi aneh.
“Emm, ini aa anu” Jawab Gilang
gugup. “Aku tak sengaja menemukannya saat kita berkemah”
“Coba kalian perhatikan!” ujar Difa
bersemangat. “Dibawah angka 9, 4, 8, 5 terdapat kata ping yag berarti dikali!
Jika angka-angka tersebut kita kalikan didapat hasil 1440, ya mungkin itulah
kuncinya! Tulisan yang lain tidak bisa dibaca”
Dengan semangat Difa memutar
anka-angka tersebut menjadi 1440 dan yes kotaknya terbuka! Isinya sebuah
gulungan kertas dengan pita berwarna merah. Perlahan Difa membuka gulungn
kertas tersebut. Di dalamnya terdapat tulisan sebagai berikut :
“
Difa, oh pasti saat membaca ini kau sudah besar. Dan kau sudah lama tidak
bertemu dengan Orang tua dan adikmu! Jika kau ingin mereka selamat, temukan
petunjuk keberadaan mereka! Tetapi nyawamu lah taruhannya! Agar aku bisa
membalas apa yang telah Ayahmu lakukan padaku! Jika kau memang cerdas, ini
hanyalah masalah kecil untukmu, jangan terlalu mempercayai sahabatmu!”
Setelah membacanya, mereka saling
berpandangan, siapa sebenarnya yang menculik Oca dan Orang tua Difa? Ini aneh,
terlalu sulit untuk diterima akal sehat.
“Tunggu dulu!” ucap Angel. “Dari
mana pamanmu mendapat peti ini? Kurasa ia juga ada kaitannya dengan
penculik-penculik tersebut”
“Aku tak pernah menanyakan itu
sebelumnya” jawab Difa. “Iya juga, kenapa tak terpikirkan pertanyaan itu olehku
sebelumya?”
“Hancurkan saja kotak beserta isinya
ini!” ucap Gilang menyela. “Kau tidak ingin mati muda kan?”
“Kau gila?” ucapan Difa meninggi. “Bagaimana orang tua dan
juga adikku? Sudahlah, jika kau tak ingin membantu aku tak memaksa!”
“Maaf Dif” ucap Gilang menyesal.
“Aku akan membantumu!”
Mereka bertiga sibuk memikirkan
kira-kira apa petunjuk yang diberikan dari kedua benda aneh tersebut. Setelah
lama mencari, merekapun akhirnya kesal!
“Lebih baik kita keluar saja duli”
ajak Difa. “Akan kutraktir es krim.”
Gilang dan Angel bersemangat ketika
mendengar kata traktir. Merekapun bergegas keluar dan menaiki sepeda
masing-masing.
Setelah kurang lebih 10 menit,
mereka sampai di sebuah kedai es krim yang tidak terlalu ramai. Difa, Angel dan
Gilang segera memasukinya.
“Hay Difa!” sapa seseorang tiba-
tiba.”Lama tidak berjumpa kau semakin tampan saja” :p
“Hay Chelsea” balas Difa kepada
orang tersebut yang ternyata bernama Chelsea.
“Kau juga semakin cantik!’” :o
Angel yang melihat pemandangan
tersebut tidak enak. Perasaan cemburu mulai merasuki hati dan pikirannya.
Tetapi kemudian ia sadar, Difa adalah sahabatnya. Tak sepantasnya ia cemburu.
“Sstt Dif!” bisik Gilang. “Itu
siapa? Cantik amat. Dan lihatlah Angel, mukanya tiba-tiba saja merah begitu!
Kepiting rebus saja kalah merah dengan mukanya!”
Ternyata benar kata Gilang, Difa
terkekeh melihat wajahnya Angel yang tiba-tiba saja memerah.
“Ngomong-ngomong kalian ingin
membeli es krim?” Tanya Chelsea ramah.
“Oh iya” jawab Gilang segra. “Tentu
saja Nona cantik, kami pesan tiga”
“Segera” ucap Chelsea. “Kalian duduk saja dulu,”
Chelsea segera masuk ke dalam menyiapkan es
krim untuk mereka.
“Difa, sepertinya kau kenal dekat
dengan Chelsea.” Ucap Gilang. “Kau tak pernah bercerita jika mempunyai teman secantik
dia”
“Haha, tentu saja aku kenal dekat
dengan Chelsea”
ucap Difa sambil tertawa. “Dulu, Mamakenal dekat dengan mamanya Chelsea.. Kami seperti
saudara. Dannn. . . Hey Angel kenapa kau diam saja?”
Angel hanya menggelengkan kepala dan
berusaha tersenyum, perasaannya tidak enak.
“Kurasa dia cemburu” ucap Gilang
seenaknya. Angel langsung menendang kaki Gilang kuat-kuat membuat Gilang
kesakitan.
Tak lama kemudian, Chelsea datang membawa nampan berisikan tiga
mangkuk es krim. Ia ikut bergabung dengan tiga sahabat itu.
“Oh Chelsea,” ucap Difa selepas menyendok es
krimnya. “Dari dulu es krim di kedai ini rasanya enak. Tidak ada yang berubah”
“Ya ya aku ingat ketika kau dulu
sering sekali kemari membeli es krim dan meminta diskon saat akan membayar!” ucap
Chelsea sambil mengingat-ingat
masa lalunya. Difa tertawa mendengarnya.
“Oh iya Chels.” Ucap Difa menyela.
“Kenalkan ini Gilang dan Angel sahabatku”
“Hallo, Angel, Gilang “ Ucap Chelsea
ramah.
Angel tersenyum dan menjabat tangan Chelsea. Sedangkan Gilang,
jangan ditanya, dia sama sekali tidak berkedip melihat wajah Chelsea yang mempesona.
“Chels, sebenarnya kami sedang
bingung dan stress” ucap Difa serius. “Kami sedang merencanakan sesuatu yangb
esar dan sangat rahasia”
“Wow, rencana apa Difa?” Tanya
Chelsea penasaran.
“Kami akan mencari Oca dan Mama
Papaku” ucap Difa pelan. “Kau ingatkan dengan kotak yang waktu itu ku tunjukkan
padamu? Aku berhasil membukanya, dan ini adalah isinya”
Chelsea membaca kertas yang diberikan Difa.
Ia terkejut selepas membaca isinya. Sejenak Chelsea terdiam seperti
mengingat-ingat sesuatu.
“Kenapa kau diam?” Tanya Difa
membuyarkan lamunan Chelsea.
“Bagaimana menurutmu?”
“Sebaiknya kalian lapor polisi saja”
Chelsea
memberikan masukan. “Aku tak ingin kalian kenapa-kenapa”
“Begini Chelsea” Kini Angel angkat
bicara. “Semenjak kejadian itu, kami semua sudah lapor pada polisi, tapi apa
yang terjadi? Sampai sekarang polisi pun tak bisa melacak jejak penculik
tersebut!”
“Benar kata Angel Chels” ucap Difa.
“Terima kasih sarannya tapi kami akan tetap mencari”
“Baiklah-baiklah” ucap Chelsea mengalah
“Hati-hati ya, semoga berhasil”
“Sekali lagi, terimakasih ya. Kami
pamit dulu. Daann. . . oh iya lupa bayar “ Dfa berpamitan dan menyerahkan
beberapa lembar uang rupiah pada Chelsea.
“Kali ini gratis” Ucap Chelsea sambil nyengir
kuda.
“Really?” Tanya Difa meyakinkan
“Terimakasih Chelsea imut”
“Thanks Chels” ucap Angel. “Kapan-kapan
kami mampir lagi ya”
“Silahkan saja, aku yang berterima
kasih harusnya” ucap Chelsea
senang.
“Sampai jumpa Chelsea
cantik” ucap Gilang dengan gaya
sok cool-nya. Difa, Angel dan Gilang berlalu dari pandangan Chelsea.
“Sekarang kita kemana?” Tanya Angel
tak sabar. “Kita belum menemukan petunjuk untuk menyelamatkan Adik serta Orang
tuamu”
“Sabarlah Angel cantik! Kita
kerumahku lagi, tanyakan pada Paman” Ujar Difa.
****
Sesampainya di rumah Difa, mereka
segera memasuki ruang tengah dimana ada Rio
disana.
“Kami berhasil membuka petinya” ucap
Difa sembari memberikan kertas tadi. “Apa yang harus kami lakukan sekarang?”
“Lihatlah ini” ucap Rio menyodorkan sebuah peta. Ia membukanya. “Kalian harus
kesini untuk menemukan markas penculik”
Difa, Angel dan Gilang memperhatikan
dengan seksama lokasi yang ditunjuk Rio.
Seperttinya tidak asing bagi mereka.
“Ini kan tempat kami berkemah saat liburan
kemarin? Kalau ini aku masih ingat betul”
“Sebaiknya, kalian kesana saat malam
ini saja., ya secepatnya!” perintah Rio.
“Paman kenapa bisa tau semuanya?
Peta ini, juga kotak itu. Kalau begitu tinggal serahkan pada polisi saja kan?” Tanya Difa mulai
curiga.
“Memangbegitu aturan mainnya Difa!”
Ucap Rio sewot. “Kalau dilanggar akan membahayakanmu!”
“Memang paman kenal dengan
penculiknya Oca?” Tanya Angel lebih curiga :p
“Kau tidak ingat? Saat kejadian itu,
aku kan
disekap oleh sekumpulan penculik itu lalu mereka membawa orang tua beserta
adikmu! Sebelum akhirnya pergi ada kotak yang terjatuh di halaman rumah beserta
peta ini!”
“Wow, paman ceritamu sungguh
bertolak belakang dengan cerita kakek” ucap Difa semakin curiga pada Rio.
“Ya tentu saja!” Tukas Rio kesal.
“Kakekmu sudah pikun! Ahh sudahlah tuan tampan yang banyak bertanya, lebih baik
kau bersiap-siap saja! Aku tak bisa mengantarmu nanti, karna ada urusan. Dan. .
. Oh ya Angel lebih baik kau tak usah ikut”
“Tentu aku harus ikut!” Ucap Angel
membantah. “Kami kan
3 sahabat, susah senang akan kami lalui bersama!”
“Wuahh dasar anak-anak berkepala
batu!” sindir Rio. “Sudah aku mau istirahat,
jangan ada yang mengganggu!”
Rio
pun berlalu dari pandangan mereka bertiga, ia segera masuk kekamarnya.
Sedangkan Difa, Angel dan Gilang menyusun rencana untuk keberangkatan sore hari
nanti.
“Baiklah, semua sudah beres” Ucap
Difa dengan penuh gairah. “Kembalilah nanti sore, dan jangan lupa bawa
barang-barang yang sudah dicatat!”
Selepas berdiskusi, Angel dan Gilang
pulang sebentar untuk bersiap-siap, begitu pula Difa, ia memasukkan
barang-barang yang akan dibawanya ke dalam ransel. Saat Difa ingin beristirahat
sejenak, tiba-tiba saja ia teringat akan kotak yang baerhasil ia buka tadi. Ya
kotak itu sudah tidak ada lagi! Difa mencari di setiap sudut kamarnya tetap
juga tidak ditemukan.
“Kemana ya kotaknya?” ucap Difa
sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya bingung. “Tak mungkin pula kotak
tersebut jalan sendiri -_-. Tapi masa bodohlah, yang penting kudapatkan
petunjuknya”
@Sore
harinya, di rumah Difa lagi-lagi
“Bagaiamana? Barang bawaan semua
sudah siap?” tanyaDifa bersemangat.
“Sudah siap kapten!” jawab Angel da
Gilang serempak.
“Biklah, kalau begitu kita berangkat
saja!” ajak Difa sambil berjalan keluar.
“Sebelum hari mulai gelap”
“Hey tunggu dulu Dif, Ngel apa
kalian tida A A A A. . . .” Gilang tiba-tiba saja berteriak. Difa dan Angel
terkejut ketika mendaoati Gilang yang jatuh terpeleset.
Dengan segera, Difa dan Angel
membantu Gilang untuk berdiri. Gilang meringis kesakitan memegangi pinggangnya.
Disitu ada tumpahan minyak yang membuat Gilang terpeleset.
“Yah, kalau sudah begini kau tak
bisa ikut” ucap Angel yang sedang membantu Gilang berjalan.
“Kami akan mengantarmu pulang” ucap
Difa. “Ohh pasti sakit”
“Sepertinya aku tidak apa-apa” ucap
Gilang pelan. Difa pun melotot ke arahnya. “Ya ya baiklah, aku tak akan ikut,
tak perlu repot-repot mengantarku, rencananya akan gagal! Semoga berhasil ya”
Gilang berjalan meninggalkan Difa
dan Angel sambil berjalan pincang.
“Ya sudah mari kita berangkat!” Ucap
Angel yang kini bersemangat
Difa dan Angel memutuskan untuk naik
bus, selain ini sudah sore dan letaknya lokasinya jauh, mereka juga tidak berniat
membawa sepeda. Karena mungkin akan repot jika harus sembunyi-sembunyi ketika
dekat dengan markas penculik.
“Mengapa tiba-tiba ada minyak tumpah
di teras rumahmu?” Tanya Angel yang baru saja duduk di dalam bus.
“Entahlah” jawab Difa. “Aku sedari
tadi hanya dikamar”
****
Perjalanan itu memakan waktu kurang
lebih 1 jam, ya beda cerita ketika jalanan macet.
Difa juga diam-diam memperhatikan
Angel yang duduk disampingnya. Ia sangat bangga dengan sahabatnya yang satu
ini. Selain cantik, Angel juga pintar, baik dan berani.
“Hey Dif?” ucap Angel membuyarkan
pandangan Difa. “Ada
apa denganmu?”
“Tidak kok” ucap Difa berdusta.
“Ngomong-ngomong, kalungmu baru ya?”
“Ohhh ini, tidak” jawab Angel “Aku
menemukannya saat tadi di depan kedai es krim miliknya Chelsea. Sangat persis dengan milik Papaku.
Liontin berbentuk huruf A, cocok untuk namaku Angel kan?”
“Haha.. Ya ya sangat cocok sekali”
ucap Difa sambil tertawa. “Kau ini ada-ada saja”
Tidak terasa telah sampai, mereka
turun di sebuah tempat yang mirip halte tetapi tidak berupa halte. Difa dan
Angel sama-sama tercengang melihat pemandangan itu. Mereka mengedarkan
pandangan, sungguh tempat ini sangat berubah dari terakhir mereka datang kemari
saat sekitar 6 bulan yang lalu.
Difa dan Angel berjalan dari halte
tersebut kearah utara. Tak jauh, terlihat sebuah papan penunjuk jalan
bertuliskan Hallstone 9485. Hari sudah semakin gelap, akhirnya Difa
mengeluarkan senternya. Ya walaupun tidak terlalu terang, setidaknya ada cahaya
untuk menerangi jalan mereka.
Sesuai dengan namanya, bukit
tersebut memang berbatu-batu, padahal kemarin dulu saat mereka kesini jalannya
masih rata dengan tanah, bukan rata dengan bebatuan. Ini bukit tapi lebih
nampak seperti hutan.
Sampai ditengah, mereka lupa
jalannya, ada sebuah pohon besar di dekat mereka yang sama sekali tidak mereka
ingat. Angel mengambil peta dalam ranselnya.
Sial
sekali ketika saat itu tangannya menyenggol tangan Difa sehingga senternya
terlepas jatuh dan mati!
“Aduuuhh” Pekik Angel. “Yah maaf
Dif, senternya mana pula nih!”
Mereka mencai-cari senternya yang
mungkin sudah menggelinding entah kemana. Disana sangat gelap, hanya di cahaya
rembulan yang memadangi tempat tersebut. Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi ‘jeduk’.
Yahh kepala Difa dan Angel saling terbentur.
“Uhh sakit Ngel!” Tukas Difa. “Aku
tak tau jika kau berada dekat sekali denganku”
Tiba-tiba saja terlihat dari
kejauhan sebuah cahaya remang-remang yang semakin lama semakin mendekat kearah
Difa dan Angel. Mereka segera berlari sembunyi di balik pohon besar.
Cahaya
itu berasal dari sebuah obor yang dibawa oleh seorang laki-laki memakai jaket
kulit dan topi.
“Sepertinya
tadi terdengar suara orang” ucap lelaki tersebut yang kemudian berbalik dan
meninggalkan tempat tersebut
“Ayo
kita ikuti dari belakang” bisik Difa dan menarik tangan Angel. Mereka
mengendap-endap mengikuti laki-laki tersebut.
Akhirnya
lelaki tersebut sampai disebuah rumah besar bernomor 1440, disamping rumah
tersebut, berjajar mobil pick up yang diantaranya Difa dan Angel kenal. Mereka
menunggu situasi aman untuk menyelidiki rumah tersebut. Setelah dirasa aman,
mereka berjalan ke belakang rumah tersebut, ada pintu yang tidak tertutup
rapat. Mereka mengintip kedalam. Itu adalah dapur, dan seketika mata Difa
membola saat melihat seorang wanita yang berada di dapur tersebut.
“Mama?”
ucap Difa spontan. Wanita tersebut langsung menoleh ke asal suara. Ya ternyata
benar, ia adalah Shilla, Mamanya Difa! Shilla tercengang ketika melihat 2 bocah
tersebut. Difa yang sudah sangat merindukan ibundanya sontak menubruk wanita
paruh baya itu.
“Ma,
masih ingatkah denganku?” Tanya Difa yang masih memeluk Shilla.
“Iya
saying sangat ingat!” Jawab Shilla terharu. “Mengapa kau kemari nak? Disini
sangat bahaya.!”
Difa
seakan tak peduli dengan penculik yang menawan orang tua beserta adiknya itu.
Yang penting ia sudah bersama Mamanya!
“Ada ribut-ribut apa
disini?” teriak seseorang yang tiba-tiba yang mengejutkan Shilla, Difa juga
Angel.
“Papa,
kenapa kau bisa disini?” Tanya Angel tak percaya saat melihat Alvin yang tiba-tiba muncul.
“Seharusnya aku yang
bertanya seperti itu anak bandel!” ucap Alvin
galak. “Bukankah sudah kukatakan jangan bermain dengan anak ini!”
“Jadi ini alasanmu tak
pernah pulang kerumah? Tega sekali kau!” ucap Angel mulai marah.
“Diam kau anak kecil! Rio
cepatlah kemari!” teriak Alvin.
Lagi-lagi Difa dan Angel dibuat terkejut ketika Rio
datang!
“Bawalah mereka ke dalam!”
perintah Alvin.
“Jangan lupa diikat!”
Rio dengan sigap membawa
mereka bertiga masuk. Diruang tengah sudah ada Cakka dan Oca yang diikat. Kini
Difa Shilla dan Angel yg diikat,.
“Keterlaluan!” ucapan Difa
meninggi. “Mau apa kau dengan keluargaku?”
Alvin dan Rio
tertawa saat mendengar pertanyaan Difa.
“Kau tau, Papamu telah
menghancurkan kehidupan kami! Untuk itu kami ingin membalas dendam pada kalian
semua!” Ucap Alvin sambil terkekeh.
“Papa tidak mungkin
seperti itu!” bantah Difa membela Cakka.
“Heyy kau piker siapa yang
memberi kode untuk membuka kotak yang
pernah kuberikan padamu?” Kini Rio turut bicara. “Sahabatmu Gilang kan? Dia mengkhianatimu
hanya untuk beberapa lembar uang rupiah. Dan diapa yang menumpahkan minyak
didepan rumah saat tadi kau akan berangkat? Itu supaya Angel tidak ikut kemari
denganmu, ternyata malah Gilang yang kena. Satu lagi kawan perempuanmu si
pemilik kedai es krim, dia juga banyak memberi kami informasi. Itu semua agar
kau tak curiga pada kami!”
Pintu yang semula tertutup
tiba-tiba saj terdobrak, polisi datang bersama Gilang!
“Dia tidak curiga” uacap
salah satu polisi. “Tapi kami yang curiga sejak dulu”
Rio dan Alvin seakan tak bisa berkutik, polisi-polisi
tersebut segera mengepung mereka dan membawanya. Angel membuang muka ketika Alvin dibawa polisi.
Ternyata Gilang lah yang melapor pada polisi,
ia membantu melepaskan ikatan pada Difa, Angel, Cakka, Shilla dan juga
Oca.
“Thanks Gilang” ucap Difa sambil tersenyum.
“Maaf
ya Difa masalah itu. . .” ucap Gilang menyesal.
“Tak
apa Lang, “ Jawab Difa, “Dann.. Papa, sebenarnya apa yang terjadi? Aku sangat
rindu pada kalian semua!”
“Papa
juga rindu padamu nak!” jawab Cakka, “Ceritanya dirumah saja yaa, dan Angel
kamu yang sabar ya nak”
Akhirnya
keluarga Difa pun bersatu kembali, sedangkan Angel sudah dianggap anak sendiri
oleh Cakka dan Shilla. Gilang pun juga berjanji tidak akan mengkhianati
sahabatnya lagi! :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar