Rabu, 15 Januari 2014

Awal petualangan DifAngeLang :P


            “Apa yang akan kita lakukan diliburan kali ini?” Tanya Difa malas. “Uhh membosankan”
           
Angel dan Gilang mengangkat kedua bahunya membuat Difa memutar malas bola matanya.
           
Ya, ketiga sahabat ini, Difa, Angel dan Gilang selalu mempunyai ide-ide gila untuk menghabiskan waktu liburan. Saat liburan semester kemarin saja mereka pergi berkemah di suatu tempat yang sama sekali tidak mereka kenal. Letaknya sangat jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Dan tentu saja tanpa izin dari orang tua mereka. Difa izin pada pamannya akan menginap dirumah Gilang.

            Sebenarnya sejak berumur 5 tahun Difa tidak bersama orang tuanya, ia tinggal bersama kakeknya. Difa sendiri tidak tau orang tuanya dimana. Kata kakeknya, ia akan tau sendiri jika nanti waktunya.

            Saat berusia 9 tahun Difa diambil oleh Pamannya yang bernama Rio, katanya ia merasa kesepian selepas berpisah dengan Ify istrinya. Dan hingga saat ini Difa tinggal bersama Rio.

            Kembali pada Difa, Angel dan Gilang yang sibuk merencanakan hal untuk dilakukan saat liburan. Mereka ramai sendiri di kamarnya Difa, sesaat ketika Gilang tiba-tiba melihat sebuah kotak kecil di sudut kamar Difa.
           
“Dif, itu kotak apa?” Tanya Gilang penasaran. “Sepertinya tak pernah kulihat”
           
            Difa tertegun mendengar pertanyaan dari Gilang, ia mengambil kotak tersebut.
           
“Apa kalian tau” ucap Difa serius. “ Selama ini aku selalu menanyakan angka-angka yang menurut kalian tidak penting, inilah alasannya!”
           
Angel dan Gilang bingung mendengar ucapan Difa, mereka membolak-balik
kotak berukuran sedang itu penasaran.

            “Apa maksudnya Dif?” Tanya Angel. “Dan apa hubungannya dengan angka-angka yang sering kau bicarakan?”

            “Ingatkah kalian dengan Oca?” Difa mulai bercerita. “Ya dia adikku yang telah lama hilang, juga kedua orang tuaku! Pamanku yang memberiku ini! dia bilang di dalam kotak ini terdapat petunjuk untuk menemukan Oca, dan mungkin juga Orang tuaku. Dan angka yang tertera di kunci kotak ini pertama kali adalah 9, 4, 8 dan 5.

            Tiba-tiba saja, Gilang teringat akan sesuatu. Ia mengeluarkan secarik kertas yang dilipat-lipat kecil dari kantong celananya.

            “Lihatlah ini!” perintah Gilang sambil membuka kertas  tersebut.

            Difa dan Angel memperhatikan baik-baik kertas tersebut, ya terdapat angka 9, 4, 8, dan 5. sama persis dengan angka di kunci yang terdapat pada kotak milik Difa.
            “Darimana kau dapat ini?” Tanya Difa. Gilang terlihat seperti kebingungan, tingkahnya mendadak jadi aneh.

            “Emm, ini aa anu” Jawab Gilang gugup. “Aku tak sengaja menemukannya saat kita berkemah”                  

            “Coba kalian perhatikan!” ujar Difa bersemangat. “Dibawah angka 9, 4, 8, 5 terdapat kata ping yag berarti dikali! Jika angka-angka tersebut kita kalikan didapat hasil 1440, ya mungkin itulah kuncinya! Tulisan yang lain tidak bisa dibaca”

            Dengan semangat Difa memutar anka-angka tersebut menjadi 1440 dan yes kotaknya terbuka! Isinya sebuah gulungan kertas dengan pita berwarna merah. Perlahan Difa membuka gulungn kertas tersebut. Di dalamnya terdapat tulisan sebagai berikut :

            Difa, oh pasti saat membaca ini kau sudah besar. Dan kau sudah lama tidak bertemu dengan Orang tua dan adikmu! Jika kau ingin mereka selamat, temukan petunjuk keberadaan mereka! Tetapi nyawamu lah taruhannya! Agar aku bisa membalas apa yang telah Ayahmu lakukan padaku! Jika kau memang cerdas, ini hanyalah masalah kecil untukmu, jangan terlalu mempercayai sahabatmu!”

            Setelah membacanya, mereka saling berpandangan, siapa sebenarnya yang menculik Oca dan Orang tua Difa? Ini aneh, terlalu sulit untuk diterima akal sehat.

            “Tunggu dulu!” ucap Angel. “Dari mana pamanmu mendapat peti ini? Kurasa ia juga ada kaitannya dengan penculik-penculik tersebut”

            “Aku tak pernah menanyakan itu sebelumnya” jawab Difa. “Iya juga, kenapa tak terpikirkan pertanyaan itu olehku sebelumya?”

            “Hancurkan saja kotak beserta isinya ini!” ucap Gilang menyela. “Kau tidak ingin mati muda kan?”

            “Kau gila?”  ucapan Difa meninggi. “Bagaimana orang tua dan juga adikku? Sudahlah, jika kau tak ingin membantu aku tak memaksa!”

            “Maaf Dif” ucap Gilang menyesal. “Aku akan membantumu!”

            Mereka bertiga sibuk memikirkan kira-kira apa petunjuk yang diberikan dari kedua benda aneh tersebut. Setelah lama mencari, merekapun akhirnya kesal!

            “Lebih baik kita keluar saja duli” ajak Difa. “Akan kutraktir es krim.”

            Gilang dan Angel bersemangat ketika mendengar kata traktir. Merekapun bergegas keluar dan menaiki sepeda masing-masing.

            Setelah kurang lebih 10 menit, mereka sampai di sebuah kedai es krim yang tidak terlalu ramai. Difa, Angel dan Gilang segera memasukinya.

            “Hay Difa!” sapa seseorang tiba- tiba.”Lama tidak berjumpa kau semakin tampan saja” :p

            “Hay Chelsea” balas Difa kepada orang tersebut yang ternyata bernama Chelsea. “Kau juga semakin cantik!’” :o

            Angel yang melihat pemandangan tersebut tidak enak. Perasaan cemburu mulai merasuki hati dan pikirannya. Tetapi kemudian ia sadar, Difa adalah sahabatnya. Tak sepantasnya ia cemburu.

            “Sstt Dif!” bisik Gilang. “Itu siapa? Cantik amat. Dan lihatlah Angel, mukanya tiba-tiba saja merah begitu! Kepiting rebus saja kalah merah dengan mukanya!”

            Ternyata benar kata Gilang, Difa terkekeh melihat wajahnya Angel yang tiba-tiba saja memerah.

            “Ngomong-ngomong kalian ingin membeli es krim?” Tanya Chelsea ramah.

            “Oh iya” jawab Gilang segra. “Tentu saja Nona cantik, kami pesan tiga”

            “Segera” ucap Chelsea. “Kalian duduk saja dulu,”

            Chelsea segera masuk ke dalam menyiapkan es krim untuk mereka.

            “Difa, sepertinya kau kenal dekat dengan Chelsea.” Ucap Gilang. “Kau tak pernah bercerita jika mempunyai teman secantik dia”

            “Haha, tentu saja aku kenal dekat dengan Chelsea” ucap Difa sambil tertawa. “Dulu, Mamakenal dekat dengan mamanya Chelsea.. Kami seperti saudara. Dannn. . . Hey Angel kenapa kau diam saja?”

            Angel hanya menggelengkan kepala dan berusaha tersenyum, perasaannya tidak enak.

            “Kurasa dia cemburu” ucap Gilang seenaknya. Angel langsung menendang kaki Gilang kuat-kuat membuat Gilang kesakitan.

             Tak lama kemudian, Chelsea datang membawa nampan berisikan tiga mangkuk es krim. Ia ikut bergabung dengan tiga sahabat itu.

            “Oh Chelsea,” ucap Difa selepas menyendok es krimnya. “Dari dulu es krim di kedai ini rasanya enak. Tidak ada yang berubah”

            “Ya ya aku ingat ketika kau dulu sering sekali kemari membeli es krim dan meminta diskon saat akan membayar!” ucap Chelsea sambil mengingat-ingat masa lalunya. Difa tertawa mendengarnya.

            “Oh iya Chels.” Ucap Difa menyela. “Kenalkan ini Gilang dan Angel sahabatku”

            “Hallo, Angel, Gilang “ Ucap Chelsea ramah.

            Angel tersenyum dan menjabat tangan Chelsea. Sedangkan Gilang, jangan ditanya, dia sama sekali tidak berkedip melihat wajah Chelsea yang mempesona.

            “Chels, sebenarnya kami sedang bingung dan stress” ucap Difa serius. “Kami sedang merencanakan sesuatu yangb esar dan sangat rahasia”

            “Wow, rencana apa Difa?” Tanya Chelsea penasaran.

            “Kami akan mencari Oca dan Mama Papaku” ucap Difa pelan. “Kau ingatkan dengan kotak yang waktu itu ku tunjukkan padamu? Aku berhasil membukanya, dan ini adalah isinya”

            Chelsea membaca kertas yang diberikan Difa. Ia terkejut selepas membaca isinya. Sejenak Chelsea terdiam seperti mengingat-ingat sesuatu.

            “Kenapa kau diam?” Tanya Difa membuyarkan lamunan Chelsea. “Bagaimana menurutmu?”

            “Sebaiknya kalian lapor polisi saja” Chelsea memberikan masukan. “Aku tak ingin kalian kenapa-kenapa”

            “Begini Chelsea” Kini Angel angkat bicara. “Semenjak kejadian itu, kami semua sudah lapor pada polisi, tapi apa yang terjadi? Sampai sekarang polisi pun tak bisa melacak jejak penculik tersebut!”

            “Benar kata Angel Chels” ucap Difa. “Terima kasih sarannya tapi kami akan tetap mencari”

            “Baiklah-baiklah” ucap Chelsea mengalah “Hati-hati ya, semoga berhasil”

            “Sekali lagi, terimakasih ya. Kami pamit dulu. Daann. . . oh iya lupa bayar “ Dfa berpamitan dan menyerahkan beberapa lembar uang rupiah pada Chelsea.

            “Kali ini gratis” Ucap Chelsea sambil nyengir kuda.

            “Really?” Tanya Difa meyakinkan “Terimakasih Chelsea imut”

            “Thanks Chels” ucap Angel. “Kapan-kapan kami mampir lagi ya”

            “Silahkan saja, aku yang berterima kasih harusnya” ucap Chelsea senang.

            “Sampai jumpa Chelsea cantik” ucap Gilang dengan gaya sok cool-nya. Difa, Angel dan Gilang berlalu dari pandangan Chelsea.

            “Sekarang kita kemana?” Tanya Angel tak sabar. “Kita belum menemukan petunjuk untuk menyelamatkan Adik serta Orang tuamu”

            “Sabarlah Angel cantik! Kita kerumahku lagi, tanyakan pada Paman” Ujar Difa.

****
            Sesampainya di rumah Difa, mereka segera memasuki ruang tengah dimana ada Rio disana.

            “Kami berhasil membuka petinya” ucap Difa sembari memberikan kertas tadi. “Apa yang harus kami lakukan sekarang?”


            “Lihatlah ini” ucap Rio menyodorkan sebuah peta. Ia membukanya. “Kalian harus kesini untuk menemukan markas penculik”

            Difa, Angel dan Gilang memperhatikan dengan seksama lokasi yang ditunjuk Rio. Seperttinya tidak asing bagi mereka.

            “Ini kan tempat kami berkemah saat liburan kemarin? Kalau ini aku masih ingat betul”

            “Sebaiknya, kalian kesana saat malam ini saja., ya secepatnya!” perintah Rio.

            “Paman kenapa bisa tau semuanya? Peta ini, juga kotak itu. Kalau begitu tinggal serahkan pada polisi saja kan?” Tanya Difa mulai curiga.

            “Memangbegitu aturan mainnya Difa!” Ucap Rio sewot. “Kalau dilanggar akan membahayakanmu!”

            “Memang paman kenal dengan penculiknya Oca?” Tanya Angel lebih curiga :p

            “Kau tidak ingat? Saat kejadian itu, aku kan disekap oleh sekumpulan penculik itu lalu mereka membawa orang tua beserta adikmu! Sebelum akhirnya pergi ada kotak yang terjatuh di halaman rumah beserta peta ini!”

            “Wow, paman ceritamu sungguh bertolak belakang dengan cerita kakek” ucap Difa semakin curiga pada Rio.

            “Ya tentu saja!” Tukas Rio kesal. “Kakekmu sudah pikun! Ahh sudahlah tuan tampan yang banyak bertanya, lebih baik kau bersiap-siap saja! Aku tak bisa mengantarmu nanti, karna ada urusan. Dan. . . Oh ya Angel lebih baik kau tak usah ikut”

            “Tentu aku harus ikut!” Ucap Angel membantah. “Kami kan 3 sahabat, susah senang akan kami lalui bersama!”

            “Wuahh dasar anak-anak berkepala batu!” sindir Rio. “Sudah aku mau istirahat, jangan ada yang mengganggu!”

            Rio pun berlalu dari pandangan mereka bertiga, ia segera masuk kekamarnya. Sedangkan Difa, Angel dan Gilang menyusun rencana untuk keberangkatan sore hari nanti.

            “Baiklah, semua sudah beres” Ucap Difa dengan penuh gairah. “Kembalilah nanti sore, dan jangan lupa bawa barang-barang yang sudah dicatat!”

            Selepas berdiskusi, Angel dan Gilang pulang sebentar untuk bersiap-siap, begitu pula Difa, ia memasukkan barang-barang yang akan dibawanya ke dalam ransel. Saat Difa ingin beristirahat sejenak, tiba-tiba saja ia teringat akan kotak yang baerhasil ia buka tadi. Ya kotak itu sudah tidak ada lagi! Difa mencari di setiap sudut kamarnya tetap juga tidak ditemukan.

            “Kemana ya kotaknya?” ucap Difa sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya bingung. “Tak mungkin pula kotak tersebut jalan sendiri -_-. Tapi masa bodohlah, yang penting kudapatkan petunjuknya”

@Sore harinya, di rumah Difa lagi-lagi

            “Bagaiamana? Barang bawaan semua sudah siap?” tanyaDifa bersemangat.

            “Sudah siap kapten!” jawab Angel da Gilang serempak.

            “Biklah, kalau begitu kita berangkat saja!” ajak Difa  sambil berjalan keluar. “Sebelum hari mulai gelap”

            “Hey tunggu dulu Dif, Ngel apa kalian tida A A A A. . . .” Gilang tiba-tiba saja berteriak. Difa dan Angel terkejut ketika mendaoati Gilang yang jatuh terpeleset.

            Dengan segera, Difa dan Angel membantu Gilang untuk berdiri. Gilang meringis kesakitan memegangi pinggangnya. Disitu ada tumpahan minyak yang membuat Gilang terpeleset.

            “Yah, kalau sudah begini kau tak bisa ikut” ucap Angel yang sedang membantu Gilang berjalan.

            “Kami akan mengantarmu pulang” ucap Difa. “Ohh pasti sakit”

            “Sepertinya aku tidak apa-apa” ucap Gilang pelan. Difa pun melotot ke arahnya. “Ya ya baiklah, aku tak akan ikut, tak perlu repot-repot mengantarku, rencananya akan gagal! Semoga berhasil ya”

            Gilang berjalan meninggalkan Difa dan Angel sambil berjalan pincang.

            “Ya sudah mari kita berangkat!” Ucap Angel yang kini bersemangat

            Difa dan Angel memutuskan untuk naik bus, selain ini sudah sore dan letaknya lokasinya jauh, mereka juga tidak berniat membawa sepeda. Karena mungkin akan repot jika harus sembunyi-sembunyi ketika dekat dengan markas penculik.

            “Mengapa tiba-tiba ada minyak tumpah di teras rumahmu?” Tanya Angel yang baru saja duduk di dalam bus.

            “Entahlah” jawab Difa. “Aku sedari tadi hanya dikamar”

****

            Perjalanan itu memakan waktu kurang lebih 1 jam, ya beda cerita ketika jalanan macet.
            Difa juga diam-diam memperhatikan Angel yang duduk disampingnya. Ia sangat bangga dengan sahabatnya yang satu ini. Selain cantik, Angel juga pintar, baik dan berani.

            “Hey Dif?” ucap Angel membuyarkan pandangan Difa. “Ada apa denganmu?”

            “Tidak kok” ucap Difa berdusta. “Ngomong-ngomong, kalungmu baru ya?”

            “Ohhh ini, tidak” jawab Angel “Aku menemukannya saat tadi di depan kedai es krim miliknya Chelsea. Sangat persis dengan milik Papaku. Liontin berbentuk huruf A, cocok untuk namaku Angel kan?”

            “Haha.. Ya ya sangat cocok sekali” ucap Difa sambil tertawa. “Kau ini ada-ada saja”

            Tidak terasa telah sampai, mereka turun di sebuah tempat yang mirip halte tetapi tidak berupa halte. Difa dan Angel sama-sama tercengang melihat pemandangan itu. Mereka mengedarkan pandangan, sungguh tempat ini sangat berubah dari terakhir mereka datang kemari saat sekitar 6 bulan yang lalu.

            Difa dan Angel berjalan dari halte tersebut kearah utara. Tak jauh, terlihat sebuah papan penunjuk jalan bertuliskan Hallstone 9485. Hari sudah semakin gelap, akhirnya Difa mengeluarkan senternya. Ya walaupun tidak terlalu terang, setidaknya ada cahaya untuk menerangi jalan mereka.

            Sesuai dengan namanya, bukit tersebut memang berbatu-batu, padahal kemarin dulu saat mereka kesini jalannya masih rata dengan tanah, bukan rata dengan bebatuan. Ini bukit tapi lebih nampak seperti hutan.

            Sampai ditengah, mereka lupa jalannya, ada sebuah pohon besar di dekat mereka yang sama sekali tidak mereka ingat. Angel mengambil peta dalam ranselnya.
Sial sekali ketika saat itu tangannya menyenggol tangan Difa sehingga senternya terlepas jatuh dan mati!

            “Aduuuhh” Pekik Angel. “Yah maaf Dif, senternya mana pula nih!”

            Mereka mencai-cari senternya yang mungkin sudah menggelinding entah kemana. Disana sangat gelap, hanya di cahaya rembulan yang memadangi tempat tersebut. Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi ‘jeduk’. Yahh kepala Difa dan Angel saling terbentur.

            “Uhh sakit Ngel!” Tukas Difa. “Aku tak tau jika kau berada dekat sekali denganku”

            Tiba-tiba saja terlihat dari kejauhan sebuah cahaya remang-remang yang semakin lama semakin mendekat kearah Difa dan Angel. Mereka segera berlari sembunyi di balik pohon besar.

            Cahaya itu berasal dari sebuah obor yang dibawa oleh seorang laki-laki memakai jaket kulit dan topi.

            “Sepertinya tadi terdengar suara orang” ucap lelaki tersebut yang kemudian berbalik dan meninggalkan tempat tersebut

            “Ayo kita ikuti dari belakang” bisik Difa dan menarik tangan Angel. Mereka mengendap-endap mengikuti laki-laki tersebut.
           
            Akhirnya lelaki tersebut sampai disebuah rumah besar bernomor 1440, disamping rumah tersebut, berjajar mobil pick up yang diantaranya Difa dan Angel kenal. Mereka menunggu situasi aman untuk menyelidiki rumah tersebut. Setelah dirasa aman, mereka berjalan ke belakang rumah tersebut, ada pintu yang tidak tertutup rapat. Mereka mengintip kedalam. Itu adalah dapur, dan seketika mata Difa membola saat melihat seorang wanita yang berada di dapur tersebut.

            “Mama?” ucap Difa spontan. Wanita tersebut langsung menoleh ke asal suara. Ya ternyata benar, ia adalah Shilla, Mamanya Difa! Shilla tercengang ketika melihat 2 bocah tersebut. Difa yang sudah sangat merindukan ibundanya sontak menubruk wanita paruh baya itu.

            “Ma, masih ingatkah denganku?” Tanya Difa yang masih memeluk Shilla.

            “Iya saying sangat ingat!” Jawab Shilla terharu. “Mengapa kau kemari nak? Disini sangat bahaya.!”

            Difa seakan tak peduli dengan penculik yang menawan orang tua beserta adiknya itu. Yang penting ia sudah bersama Mamanya!

            “Ada ribut-ribut apa disini?” teriak seseorang yang tiba-tiba yang mengejutkan Shilla, Difa juga Angel.

            “Papa, kenapa kau bisa disini?” Tanya Angel tak percaya saat melihat Alvin yang tiba-tiba muncul.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu anak bandel!” ucap Alvin galak. “Bukankah sudah kukatakan jangan bermain dengan anak ini!”

“Jadi ini alasanmu tak pernah pulang kerumah? Tega sekali kau!” ucap Angel mulai marah.

“Diam kau anak kecil! Rio cepatlah kemari!” teriak Alvin. Lagi-lagi Difa dan Angel dibuat terkejut ketika Rio datang!

“Bawalah mereka ke dalam!” perintah Alvin. “Jangan lupa diikat!”

Rio dengan sigap membawa mereka bertiga masuk. Diruang tengah sudah ada Cakka dan Oca yang diikat. Kini Difa Shilla dan Angel yg diikat,.

“Keterlaluan!” ucapan Difa meninggi. “Mau apa kau dengan keluargaku?”

Alvin dan Rio tertawa saat mendengar pertanyaan Difa.

“Kau tau, Papamu telah menghancurkan kehidupan kami! Untuk itu kami ingin membalas dendam pada kalian semua!” Ucap Alvin sambil terkekeh.

“Papa tidak mungkin seperti itu!” bantah Difa membela Cakka.

“Heyy kau piker siapa yang memberi kode untuk membuka  kotak yang pernah kuberikan padamu?” Kini Rio turut bicara. “Sahabatmu Gilang kan? Dia mengkhianatimu hanya untuk beberapa lembar uang rupiah. Dan diapa yang menumpahkan minyak didepan rumah saat tadi kau akan berangkat? Itu supaya Angel tidak ikut kemari denganmu, ternyata malah Gilang yang kena. Satu lagi kawan perempuanmu si pemilik kedai es krim, dia juga banyak memberi kami informasi. Itu semua agar kau tak curiga pada kami!”

Pintu yang semula tertutup tiba-tiba saj terdobrak, polisi datang bersama Gilang!

“Dia tidak curiga” uacap salah satu polisi. “Tapi kami yang curiga sejak dulu”

Rio dan Alvin seakan tak bisa berkutik, polisi-polisi tersebut segera mengepung mereka dan membawanya. Angel membuang muka ketika Alvin dibawa polisi. Ternyata Gilang lah yang melapor pada polisi,  ia membantu melepaskan ikatan pada Difa, Angel, Cakka, Shilla dan juga Oca.

“Thanks Gilang” ucap Difa sambil tersenyum.

“Maaf ya Difa masalah itu. . .” ucap Gilang menyesal.

“Tak apa Lang, “ Jawab Difa, “Dann.. Papa, sebenarnya apa yang terjadi? Aku sangat rindu pada kalian semua!”

“Papa juga rindu padamu nak!” jawab Cakka, “Ceritanya dirumah saja yaa, dan Angel kamu yang sabar ya nak”

Akhirnya keluarga Difa pun bersatu kembali, sedangkan Angel sudah dianggap anak sendiri oleh Cakka dan Shilla. Gilang pun juga berjanji tidak akan mengkhianati sahabatnya lagi! :p



       

Tidak ada komentar: