Kamis, 30 Januari 2014

Lost In London *Chapter 2

Walaupun langit pada malam itu
Bermandikan cahaya bintang
Bulan pun bersinar betapa indahnya
Namun  menambah kepedihan

Kuakan pergi meninggalkan dirimu
Menyusuri liku hidupku
Janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu
Berikanlahsenyuman padaku…

            Sejenak semua terdiam, untuk menunggu kepastian dari Difa.
           
            “Oke-oke, aku ngerti! Sekarang Difa mau Tanyasama Angel, apakah kamu bersedia menungguku? Apa kamu mau berhubungan jarak jauh denganku?” Tanya Difa bersungguh-sungguh. Angel segera mengangguk cepat.

            “Aku pasti nunggu kamu Dif, pasti itu! Percayalahjika aku ini benar-benar jalanmu, sampai akhirnya aku tetap milikmu!”

            Difa memeluk erat Angel seakan tak inginberjauhan dengannya, Sedangkan Gilang, Bagas, Cindai, Rafli dan Marsha yangsedari tadi menyaksikan, tenggelam dalam keharuan. Selepas itu, mereka  kembali bercanda dan berbincang-bincang dimalam yang indah itu. Waktu bersama Difa menjadi sangat berharga mengingat iatak lama lagi akan meninggalkan mereka ke London.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00. Difapun teringat pada pesan papanya untuk tidak pulang terlalu malam agar tidak di kunciin pintu. “Ehh.. udah jam sembilan,aku harus segera pulang nih!”

           “Iya aku juga udah capek banget nih, Marsha samaCindai jadi menginap disini ya?” Tanya Bagas sembari beranjak dari kursinya.

          “Iya, aku lagi butuh temen cerita” Jawab Angelsesegera mungkin.

          “Ya lah, kalau gitu kita pulang dulu.. Daahhsampai jumpa hari senin” ucap Gilang dengan melambaikan tangan yang diikutijuga oleh Rafli. Mereka pun pulang kerumah masing-masing.

Saat diperjalanan, Difa melirik ke arah jamtangannya. “What? Setengah sebelas? Beneran kenaomel atau mungkin dikunciin juganih. Lagian nih Jakartagak siang gak malem masih aja macet!” Difa mengumpat kesal. Ia membunyikanklakson berulang-ulang. Saat itu muncullah seorang laki-laki turun dari mobilyang berada di depan mobil Difa dan menghampirinya.

Ia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Difa.Segera Difa membukanya.

           “Ada apa Om?” Tanya Difa polos. Padahal terang saja laki-laki tersebut akan komplain masalah klaksonyang dibunyikannya berkali-kali.

           “Aduh cah ganteng, aku iki adoh-adoh yo tekoJogja, sektas taken. Iki macet le singsabar toh, iso kopok kupingku merga klaksonmu!” (Aduh anak ganteng, saya inijauh-jauh dari Jogja. Ini macet *sebutan anak laki-laki* yang sabar donk, bisa tuli telingaku gara-garaklaksonmu).

            Difa yang sedari tadi mendengarkan lelaki yangkatanya dari Jogja itu hanya melongo. Sedikit-sedikit ia dapat menangkap apayang dibicarakannya. Segera Difa meminta maaf atas ketidaknyamanan itu. “IyaOm, maaf maaf banget.”

           Lelaki tersebut memandang Difa aneh, kemudianwajahnya yang awalnya terlihat ramah berubah menjadi garang. “Kamu tunggusini!”. Ucap lelaki tersebut kemudian ia kembali ke mobilnya.

           “Itu orang kenapa? Jangan-jangan bakalan dituntut nih” Difa membayangkan dirinya dituntut sedikit ngeri.

           “Heh, kamu Difa anaknya Cakka kan? Ini kasih ke Papa kamu!” ucap orangtersebut dan memberikan sebuah amplop besar pada Difa. Kemudian olak-balikamplop tersebut. Sebenarnya siapa orang tersebut? Ada hubungan apa dengan Cakka? Dan apa isiamplop tersebut?

            30 kemudian, jalanan kembali normal,Difa ingin segera sampai dirumah dan mengatakan semua pada Papa dan Mamanya.Sesampainya dirumahm Difa memasukkan mobilnya ke garasi dan cepat-cepat turun.

            “Semoga gak dikunci” ucap Difaberharap dengan memegang daun pintu.

Ceklek!

            Beruntung, ternyata pintunya tidakterkunci. Ia segera masuk dan berjingkat-jingkat menuju kamarnya di lantai 2.Karna saat itu sedang gelap, Difa tidak melihat bahwa lantainya basah, Dan saatdia berjalan di tingkat limatiba-tiba. . . .

            BRUKK!

            “Aduhh kakiku sakit!” Difa terjatuh!Ia merintih kesakitan dan memegang kakinya. Seketika tampak Cakka dan Agnidatang lalu menyalakan lampu. Mereka terkejut melihat Difa. Agni terlihat sangat panik, kemudian dengan sigap Cakka memapah Difa ke kamarnya dan membaringkan ke tempat tidur.

            “Baru pulang?” Tanya Cakka menahanemosi setelah membawa Difa ke kamarnya.

            “Sudahlah Kka, anak lagi sakit..Gimana nak, apa perlu mama panggil tukang pijat?” Tanya Agni cemas

            “Maaf Pa, Gakusah Ma.. Difa gak kenapa-kenapa. Oh iya tadi ada seseorang yang menitipkan inipada Difa. Dia bilang suruh berikan ke Papa. Katanya sih dari Jogja, tapi Difagak tau siapa orang itu” Jelas Difa panjang lebar dan menyerahkan amploptersebut. Cakka dan Agni saling berpandangan.

            “Hahh? Apa maksudnya ini? Ya tuhan,apa yang harus kita lakukan?” Cakka panik ketika membaca apa yang ada di dalamamplop tersebut. Agni segera merebutnya dari tangan Cakka. Setelah membaca, iamemandang Difa cemas. Kemudian butiran-butiran air mata membasahi pipinya.

            “Ini pada kenapa Mama sama Papa? Difa gak ngerti?” Tanya Difa bingung melihat kedua orang tuanya itu.

            “Sudah ya Difa tidur aja dulu, ini sudah malam. Kalau bisa besok kamu di rumah aja gak usah kemana-mana!” Perintah Cakka pada Difa. Difa menurut dan ia pun tidur. Cakka dan Agni keluar darikamar anaknya itu.

Keesokkanharinya. . . . . . .

            Difa baru saja selesai mandi, iamengenakan Kaos berwarna putih dan celana jeans pendek. Ia mengambil kuncimobilnya dan turun ke bawah dengan langkah pincang. Kakinya masih terasa sakit.

            “Eh, mau kemana kamu?” Tanya Agnisaat melihat Difa memegang kunci mobilnya,

            “Difa mau ke bengkel depan perumahanitu Ma, bentar doank kok..”

            Tiba-tiba, Cakka datang menghampirimereka. “Difa, sepertinya kamu sudah gak aman lagi disini. Papa ingin sesegeramungkin kamu Sekolah di London!”

            Difa membulatkan matanya, tak percaya atas apa yang ia dengar barusan. “Papa serius? Tapi kenapa?”

            “Papa gak bisa jelasin sekarang kekamu, Oke kalau kamu mau ke bengkel silahkan saja. Tapi ingat pesan Papa,hati-hati dan jangan terlalu lama”

            Akhirnya Difa langsung pergi kebengkel mobil di dekat rumahnya, ia meminta agar mobilnya diservis sekaligus di mandikan(?). Sambil menunggu, ia mendengarkan lagu dari Handphonenya menggunakan Headset.

            “DORR”

            Difa terkejut saat mendegar suaraitu, oalah ternyata Angel sengaja mengagetinya.

            “Ya ampun Ngel, kaget tau! Kamungapain disini?”

            “Hehe.. Maaf, tadi aku kerumah kamu,Kata Tante Agni, kamu lagi ke bengkel. Ya sudah aku susul kesini”

            Beberapa menit, mereka terdiam dalamkeheningan. Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir mereka. Dan ketikaitu Difa membuka pembicaraan.

            “Ngel, ada berita buruk”

            Angel segera menoleh ke Difa, “Ada apa Dif?”

            “Kata Papa, aku harus secepatnyasekolah di London,katanya aku sudah tak aman lagi disini” Difa berusaha menjelaskan. Angeltertunduk.

            “Tapi kenapa harus  secepat itu?”

            Difa menaikkan bahunya tanda takmengerti, Angel kembali tertunduk lesu…

            “Dif, sebenarnya aku mau memintabantuan kamu”

            “Apa? Mungkin aku bisa Bantu”

            “Aku mau cari papa aku Dif”

            Difa tertegun, mencari Papa Angel? “Bisa aja sih,tapi mungkin terlalu rumit Ngel”

            “Ya kalau kamu gak bisa gak Kenapa-napa kok.”

            “Pasti aku Bantu kamu Ngel, Aku janji!” Difa danAngel saling mengaitkan kelingking

Tidak ada komentar: