Walaupun langit pada malam itu
Bermandikan cahaya bintang
Bulan pun bersinar betapa indahnya
Namun menambah kepedihan
Kuakan pergi meninggalkan dirimu
Menyusuri liku hidupku
Janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu
Berikanlahsenyuman padaku…
Sejenak semua terdiam, untuk menunggu kepastian dari Difa.
“Oke-oke, aku ngerti! Sekarang Difa mau Tanyasama Angel, apakah kamu
bersedia menungguku? Apa kamu mau berhubungan jarak jauh denganku?” Tanya
Difa bersungguh-sungguh. Angel segera mengangguk cepat.
“Aku pasti nunggu kamu Dif, pasti itu! Percayalahjika aku ini
benar-benar jalanmu, sampai akhirnya aku tetap milikmu!”
Difa memeluk erat Angel seakan tak inginberjauhan dengannya, Sedangkan
Gilang, Bagas, Cindai, Rafli dan Marsha yangsedari tadi menyaksikan,
tenggelam dalam keharuan. Selepas itu, mereka kembali bercanda dan
berbincang-bincang dimalam yang indah itu. Waktu bersama Difa menjadi
sangat berharga mengingat iatak lama lagi akan meninggalkan mereka ke
London.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00. Difapun teringat pada pesan papanya untuk tidak pulang terlalu malam agar tidak di kunciin pintu. “Ehh.. udah jam sembilan,aku harus segera pulang nih!”
“Iya aku juga udah capek banget nih, Marsha samaCindai jadi menginap
disini ya?” Tanya Bagas sembari beranjak dari kursinya.
“Iya, aku lagi butuh temen cerita” Jawab Angelsesegera mungkin.
“Ya lah, kalau gitu kita pulang dulu.. Daahhsampai jumpa hari senin”
ucap Gilang dengan melambaikan tangan yang diikutijuga oleh Rafli.
Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
Saat diperjalanan, Difa melirik ke arah jamtangannya. “What? Setengah sebelas? Beneran kenaomel atau mungkin dikunciin
juganih. Lagian nih Jakartagak siang gak malem masih aja macet!” Difa
mengumpat kesal. Ia membunyikanklakson berulang-ulang. Saat itu
muncullah seorang laki-laki turun dari mobilyang berada di depan mobil
Difa dan menghampirinya.
Ia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Difa.Segera Difa membukanya.
“Ada apa Om?” Tanya Difa polos. Padahal terang saja laki-laki tersebut akan komplain masalah klaksonyang dibunyikannya berkali-kali.
“Aduh cah ganteng, aku iki adoh-adoh yo tekoJogja, sektas taken. Iki macet le singsabar
toh, iso kopok kupingku merga klaksonmu!” (Aduh anak ganteng, saya
inijauh-jauh dari Jogja. Ini macet *sebutan anak laki-laki* yang sabar donk, bisa tuli telingaku gara-garaklaksonmu).
Difa yang sedari tadi mendengarkan lelaki yangkatanya dari Jogja itu
hanya melongo. Sedikit-sedikit ia dapat menangkap apayang
dibicarakannya. Segera Difa meminta maaf atas ketidaknyamanan itu.
“IyaOm, maaf maaf banget.”
Lelaki tersebut
memandang Difa aneh, kemudianwajahnya yang awalnya terlihat ramah
berubah menjadi garang. “Kamu tunggusini!”. Ucap lelaki tersebut
kemudian ia kembali ke mobilnya.
“Itu orang kenapa? Jangan-jangan bakalan dituntut nih” Difa membayangkan dirinya dituntut sedikit ngeri.
“Heh, kamu Difa anaknya Cakka kan? Ini kasih ke Papa kamu!” ucap
orangtersebut dan memberikan sebuah amplop besar pada Difa. Kemudian
olak-balikamplop tersebut. Sebenarnya siapa orang tersebut? Ada hubungan
apa dengan Cakka? Dan apa isiamplop tersebut?
30 kemudian, jalanan kembali normal,Difa ingin segera sampai dirumah
dan mengatakan semua pada Papa dan Mamanya.Sesampainya dirumahm Difa
memasukkan mobilnya ke garasi dan cepat-cepat turun.
“Semoga gak dikunci” ucap Difaberharap dengan memegang daun pintu.
Ceklek!
Beruntung, ternyata pintunya tidakterkunci. Ia segera masuk dan
berjingkat-jingkat menuju kamarnya di lantai 2.Karna saat itu sedang
gelap, Difa tidak melihat bahwa lantainya basah, Dan saatdia berjalan di
tingkat limatiba-tiba. . . .
BRUKK!
“Aduhh kakiku sakit!” Difa terjatuh!Ia merintih kesakitan dan memegang
kakinya. Seketika tampak Cakka dan Agnidatang lalu menyalakan lampu.
Mereka terkejut melihat Difa. Agni terlihat sangat panik, kemudian dengan
sigap Cakka memapah Difa ke kamarnya dan membaringkan ke tempat tidur.
“Baru pulang?” Tanya Cakka menahanemosi setelah membawa Difa ke kamarnya.
“Sudahlah Kka, anak lagi sakit..Gimana nak, apa perlu mama panggil tukang pijat?” Tanya Agni cemas
“Maaf Pa, Gakusah Ma.. Difa gak kenapa-kenapa. Oh iya tadi ada
seseorang yang menitipkan inipada Difa. Dia bilang suruh berikan ke
Papa. Katanya sih dari Jogja, tapi Difagak tau siapa orang itu” Jelas
Difa panjang lebar dan menyerahkan amploptersebut. Cakka dan Agni saling
berpandangan.
“Hahh? Apa maksudnya ini? Ya
tuhan,apa yang harus kita lakukan?” Cakka panik ketika membaca apa yang
ada di dalamamplop tersebut. Agni segera merebutnya dari tangan Cakka.
Setelah membaca, iamemandang Difa cemas. Kemudian butiran-butiran air
mata membasahi pipinya.
“Ini pada kenapa Mama sama Papa? Difa gak ngerti?” Tanya Difa bingung melihat kedua orang tuanya itu.
“Sudah ya Difa tidur aja dulu, ini sudah malam. Kalau bisa besok kamu di
rumah aja gak usah kemana-mana!” Perintah Cakka pada Difa. Difa menurut
dan ia pun tidur. Cakka dan Agni keluar darikamar anaknya itu.
Keesokkanharinya. . . . . . .
Difa baru saja selesai mandi, iamengenakan Kaos berwarna putih dan
celana jeans pendek. Ia mengambil kuncimobilnya dan turun ke bawah
dengan langkah pincang. Kakinya masih terasa sakit.
“Eh, mau kemana kamu?” Tanya Agnisaat melihat Difa memegang kunci mobilnya,
“Difa mau ke bengkel depan perumahanitu Ma, bentar doank kok..”
Tiba-tiba, Cakka datang menghampirimereka. “Difa, sepertinya kamu sudah
gak aman lagi disini. Papa ingin sesegeramungkin kamu Sekolah di
London!”
Difa membulatkan matanya, tak percaya atas apa yang ia dengar barusan. “Papa serius? Tapi kenapa?”
“Papa gak bisa jelasin sekarang kekamu, Oke kalau kamu mau ke bengkel
silahkan saja. Tapi ingat pesan Papa,hati-hati dan jangan terlalu lama”
Akhirnya Difa langsung pergi kebengkel mobil di dekat rumahnya, ia
meminta agar mobilnya diservis sekaligus di mandikan(?). Sambil
menunggu, ia mendengarkan lagu dari Handphonenya menggunakan Headset.
“DORR”
Difa terkejut saat mendegar suaraitu, oalah ternyata Angel sengaja mengagetinya.
“Ya ampun Ngel, kaget tau! Kamungapain disini?”
“Hehe.. Maaf, tadi aku kerumah kamu,Kata Tante Agni, kamu lagi ke bengkel. Ya sudah aku susul kesini”
Beberapa menit, mereka terdiam dalamkeheningan. Tak ada satu kata pun
yang terucap dari bibir mereka. Dan ketikaitu Difa membuka pembicaraan.
“Ngel, ada berita buruk”
Angel segera menoleh ke Difa, “Ada apa Dif?”
“Kata Papa, aku harus secepatnyasekolah di London,katanya aku sudah tak
aman lagi disini” Difa berusaha menjelaskan. Angeltertunduk.
“Tapi kenapa harus secepat itu?”
Difa menaikkan bahunya tanda takmengerti, Angel kembali tertunduk lesu…
“Dif, sebenarnya aku mau memintabantuan kamu”
“Apa? Mungkin aku bisa Bantu”
“Aku mau cari papa aku Dif”
Difa tertegun, mencari Papa Angel? “Bisa aja sih,tapi mungkin terlalu rumit Ngel”
“Ya kalau kamu gak bisa gak Kenapa-napa kok.”
“Pasti aku Bantu kamu Ngel, Aku janji!” Difa danAngel saling mengaitkan kelingking
Tidak ada komentar:
Posting Komentar