Kamis, 30 Januari 2014

Cinta Semir Sepatu #part1

Suara Ayam berkokok mulai membangunkan seluruh insan di negeri ini. Mentari pun telah menampakkan sinarnya. Orang-orang memulai aktifitasnya. Begitu juga Difa, dia sedang asik membereskan kotak semir sepatunya, sebentar lagi dia akan berangkat bekerja.

KRING-KRING

"Difa ayo kita berangkat!" teriak Bagas dari kejauhan sambil membunyikan bel sepedanya.
"Iya sebentar!" jawab Difa dari dalam rumahnya. Difa segera mengambil sisir hitam dan menyisir rambutnya hingga klimis. Lalu merapikan pakaiannya. Dan kini Difa siap untuk bekerja. Dirumah Difa tak ada siapa-siapa. Ayahnya telah berangkat melaut pagi-pagi buta. Sedangkan ibunya berangkat ke pasar untuk berjualan ikan hasil tangkapan ayah Difa.
"Ayo kita berangkat!" ajak Difa yang baru saja keluar dari rumah sederhananya itu.
"Lama banget sih,, buruan yoo naik!" Bagas menggerutu kesal pada sahabatnya itu. Difa segera naik di boncengan sepeda Bagas.

Bagas mengayuh sepeanya dengan semangat, sangking semangatnya, Bagas tak melihat jika ada sebuah batu lumayan besar didepannya. Diterjangnya batu tersebut, membuat mereka jatuh terperosok ke dalam parit. Nasib baik parit tersebut kering, kalau tidak,, ya nasib mereka lah itu..

"Ahh... Gemblog! gimana sih kamu! Aduh sakit nih" Difa merintih kesakitan.
"Huh.. Bawel kamu, aku juga sakit tau!" Tukas Bagas yang sebenarnya lebih menjuru ke pembelaan diri. Mereka segera bangkit dan melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka adalah stasiun kereta api.

@Stasiun kereta api

"Dif, mencar ya, aku kesana dan kamu kesitu. Nanti ketemuan disini!" Bagas memberi instruksi. Difa mengangguk-anggukan kepalanya. Difa berjalan agak pincang, karena kakinya sedikit keseleo saat jatu tadi. Ditatapnya satu-persatu kaki orang-orang yang lalu lalang. Hampir semua menggunakan sepatu kets! Difa mulai putus asa dan memutuskan untuk duduk di kursi tunggu.

------------------------

"Pa, bisa anter Angel gak? anterin ya pa? please?" rengek Angel meminta antar pada papanya.
"Papa sibuk, kamu kan sudah besar naik kereta api ajadeh, biar Papa anter ke stasiun. Ucap Papa Angel. Angel cemberut dan hanya bisa pasrah.

------------------------

Tanpa sadar, Difa tertidur di kursinya. Sedangkan Angel juga sudah sampai di stasiun, dia duduk disebelah tukang semir sepatu, yaitu Difa! Angel mengeluarkan Ipadnya, tak sengaja, kepala Difa jatuh(?) di pundak Angel.

"Idih.. apaan sih lo? sana!" tukas Angel sambil menjauhkan tubuh Difa darinya. Difa terbangun dan mendapati seorang gadis cantik disebelahnya.
"Ada apa non?" tanya Difa polos. Angel menoleh jutek ke arah Difa, tanpa menjawab pertanyaannya, dia kembali asik dengan ipadnya.
Difa melihat takjub benda yang dipegang Angel.

"Ini apa toh non? keren banget ya, tinggal di 'sret-sret'(?) udah gerak. ckckck... canggih" Difa berdecak kagum.
"Aduhh... Parjo, lo hidup di zaman prasejarah ya? Ipad aja gak ngerti!" ledek Angel yang seenaknya menyebut  Difa dengan nama 'Parjo'.
"Non, nama saya Difa bukan Parjo!" Ucap Difa membenarkan. Angel tertawa menengar pernyataan Difa.
"Lo itu harus ganti penampilan, namanya Difa,, wihhh keren, tapi penampilan culun begini" Lagi-lagi Angel meledek Difa. Difa hanya tersenyum.

"Non mau kemana?sambil nunggu kereta bagaimana kalau sepatunya saya semir dulu?" Difa menawarkan jasanya. Angel melirik kesal pada Difa.
"Lo lihat dulu sepatu gue!" semir-semir! enak aja lo!" omel Angel. Difa melihat sepatu Angel.
"Ya mungkin aja Non bosen warna ungu dan ingin ganti warna hitam" ujar Difa polos.
Lalu???????

Tidak ada komentar: