Suara Ayam berkokok mulai membangunkan seluruh insan di negeri ini.
Mentari pun telah menampakkan sinarnya. Orang-orang memulai
aktifitasnya. Begitu juga Difa, dia sedang asik membereskan kotak semir
sepatunya, sebentar lagi dia akan berangkat bekerja.
KRING-KRING
"Difa ayo kita berangkat!" teriak Bagas dari kejauhan sambil membunyikan bel sepedanya.
"Iya
sebentar!" jawab Difa dari dalam rumahnya. Difa segera mengambil sisir
hitam dan menyisir rambutnya hingga klimis. Lalu merapikan pakaiannya.
Dan kini Difa siap untuk bekerja. Dirumah Difa tak ada siapa-siapa.
Ayahnya telah berangkat melaut pagi-pagi buta. Sedangkan ibunya
berangkat ke pasar untuk berjualan ikan hasil tangkapan ayah Difa.
"Ayo kita berangkat!" ajak Difa yang baru saja keluar dari rumah sederhananya itu.
"Lama banget sih,, buruan yoo naik!" Bagas menggerutu kesal pada sahabatnya itu. Difa segera naik di boncengan sepeda Bagas.
Bagas
mengayuh sepeanya dengan semangat, sangking semangatnya, Bagas tak
melihat jika ada sebuah batu lumayan besar didepannya. Diterjangnya batu
tersebut, membuat mereka jatuh terperosok ke dalam parit. Nasib baik
parit tersebut kering, kalau tidak,, ya nasib mereka lah itu..
"Ahh... Gemblog! gimana sih kamu! Aduh sakit nih" Difa merintih kesakitan.
"Huh..
Bawel kamu, aku juga sakit tau!" Tukas Bagas yang sebenarnya lebih
menjuru ke pembelaan diri. Mereka segera bangkit dan melanjutkan
perjalanan. Tujuan mereka adalah stasiun kereta api.
@Stasiun kereta api
"Dif,
mencar ya, aku kesana dan kamu kesitu. Nanti ketemuan disini!" Bagas
memberi instruksi. Difa mengangguk-anggukan kepalanya. Difa berjalan
agak pincang, karena kakinya sedikit keseleo saat jatu tadi. Ditatapnya
satu-persatu kaki orang-orang yang lalu lalang. Hampir semua menggunakan
sepatu kets! Difa mulai putus asa dan memutuskan untuk duduk di kursi
tunggu.
------------------------
"Pa, bisa anter Angel gak? anterin ya pa? please?" rengek Angel meminta antar pada papanya.
"Papa
sibuk, kamu kan sudah besar naik kereta api ajadeh, biar Papa anter ke
stasiun. Ucap Papa Angel. Angel cemberut dan hanya bisa pasrah.
------------------------
Tanpa
sadar, Difa tertidur di kursinya. Sedangkan Angel juga sudah sampai di
stasiun, dia duduk disebelah tukang semir sepatu, yaitu Difa! Angel
mengeluarkan Ipadnya, tak sengaja, kepala Difa jatuh(?) di pundak Angel.
"Idih..
apaan sih lo? sana!" tukas Angel sambil menjauhkan tubuh Difa darinya.
Difa terbangun dan mendapati seorang gadis cantik disebelahnya.
"Ada
apa non?" tanya Difa polos. Angel menoleh jutek ke arah Difa, tanpa
menjawab pertanyaannya, dia kembali asik dengan ipadnya.
Difa melihat takjub benda yang dipegang Angel.
"Ini apa toh non? keren banget ya, tinggal di 'sret-sret'(?) udah gerak. ckckck... canggih" Difa berdecak kagum.
"Aduhh...
Parjo, lo hidup di zaman prasejarah ya? Ipad aja gak ngerti!" ledek
Angel yang seenaknya menyebut Difa dengan nama 'Parjo'.
"Non, nama saya Difa bukan Parjo!" Ucap Difa membenarkan. Angel tertawa menengar pernyataan Difa.
"Lo
itu harus ganti penampilan, namanya Difa,, wihhh keren, tapi penampilan
culun begini" Lagi-lagi Angel meledek Difa. Difa hanya tersenyum.
"Non
mau kemana?sambil nunggu kereta bagaimana kalau sepatunya saya semir
dulu?" Difa menawarkan jasanya. Angel melirik kesal pada Difa.
"Lo lihat dulu sepatu gue!" semir-semir! enak aja lo!" omel Angel. Difa melihat sepatu Angel.
"Ya mungkin aja Non bosen warna ungu dan ingin ganti warna hitam" ujar Difa polos.
Lalu???????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar