Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi
sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk
memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya, baru saja Netta pindah
dari Manado ke Jakarta karena, Ayahnya ditugaskan untuk bekerja di
sana. Sebenarnya Netta merasa keberatan harus meninggalkan kampung
halamannya, tapi mau bagaimana lagi jika kenyataannya memang harus
begitu.
Netta membuka kaca jendela mobilnya dan melihat keluar. Hhh,
Jakarta macet, begitulah pikirnya. Dia membayangkan kira-kira apa yang
akan terjadi di Sekolah barunya nanti.
"Semoga semua kan baik-baik saja" batin Netta yang kemudian melanjutkan acara melamunnya itu.
15 menit kemudian Netta telah sampai di gerbang sekolah barunya.
Dia berjalan melewati lorong-lorong kelas, ternyata tak seburuk yang di
pikirkannya, beberapa siswa tersenyum ramah kepadanya. Netta merasa
lega.
Sesampainya di depan kelas, Netta masih tidak yakin itu kelasnya atau bukan, dia celingak-celinguk dan. . .
"BRUKK"
Netta terjatuh, dan dia berusaha secepatnya bangkit sebelum
menjadi bahan tertawa anak-anak di kelas itu. Saat akan berdiri, seorang
laki-laki mengulurkan tangannya untuk membantu Netta berdiri.
"Maaf ya, aku tadi buru-buru dan gak lihat kamu" ucap cowok yang menabraknya tersebut seraya membantu Netta berdiri.
"Iya gak apa, makasih ya" Jawab Netta tersenyum ramah pada anak
laki-laki tersebut. Sosok tinggi, putih, ganteng juga manis itu berada
dihadapan Netta persis.
"Eh, kamu anak baru rupanya, kenalin aku Ryansyah" ucap anak laki-laki tersebut yang ternyata bernama Ryansyah.
"Iya namaku Netta" Netta memperkenalkan dirinya pada Ryansyah.
Entah mengapa Netta merasa grogi saat didekat Ryansyah. Mungkin inilah
yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Suatu kebetulan, Netta duduk di sebuah bangku kosong tepat di
sebelah Ryansyah, karna, baru saja anak yang duduk bersama Ryansyah
sebelum Netta pindah sekolah. Semua teman-teman di kelas itu tak perlu
repot-repot berkenalan dengan Netta, karna jauh-jauh hari sebelumnya
guru-guru sudah memberitahukan bahwa akan ada seorang anak baru pindahan
dari Manado.
****
Bel istirahat berbunyi, Netta ingin sekali ke perpustakaan tapi ia tak tau dimana tempatnya.
“Syah, perpustakaan tempatnya dimana ya?” Netta bertanya pada Ryansyah yang sedang asyik ngumpul bareng teman-temannya.
“Enak aja panggil ‘Syah’! Namaku Ryansyah bukan Syah tau!” Omel
Ryansyah pada Netta yang sebetulnya hanya bercanda. Netta cemberut
mendengar omelan dari Ryansyah dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Belum sempat ia pergi, Ryansyah segera mencegah Netta.
“Hey mau kemana? Cuma bercanda kali, gitu aja ngambek! Ayo aku
antar, perpus di lantai dua” ajak Ryansyah sembari menarik Netta menuju
lantai dua.
Sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar, dengan rak-rak buku
yang tertata rapi disana. Banyak juga yang mengunjung perpustakaan saat
istirahat ini. Termasuk Netta dan Ryansyah yang menghabiskan waktu
istirahat untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka bersahabat seperti
sudah lama sekali. Ryansyah memang anak yang supel dan mudah akrab
dengan orang, karna itu juga dia terpilih sebagai ketua OSIS.
Netta mulai bosan dengan buku bacaanya dan mengajak Ryansyah untuk
pergi ke kantin saja. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ke kantin.
”RYANSYAH!!!”
Beberapa anak perempuan berteriak histeris saat melihat Ryansyah,
dengan ramahnya Ryansyah mengaggukkan kepala sambil tersenyum.
“Gila, kamu punya banyak fans ya di sekolah ini? Memang kamu artis
atau penyanyi?” goda Netta pada Ryansyah yang terlihat malu-malu itu.
“Ahhh… apaan sih kamu, aku sama kok seperti yang lain. Cuma Aku lebih ganteng “ Jawab Ryansyah narsis.
---------
Jam pelajaran telah usai, Ryansyah mengantarkan Netta pulang karna
memang jalannya searah dan sebagai langkah awal persahabatan mereka
katanya. Selama di perjalanan, mereka bercanda hingga satu pernyataan
aneh terlontar dari mulut Ryansyah.
“Netta, andaikan nanti aku mati kita bakalan tetap bersahabat kan? Kamu jangan lupa sama aku”
Netta tertegun mendengarnya.Apa maksudnya? Tapi Netta mencoba
untuk berpikir positif dan menganggap omongan Ryansyah hanya bercanda.
Malam itu, Netta kepikiran terus dengan Ryansyah. Dia merasa
gelisah. Apa yang terjadi pada sahabat barunya tersebut? Netta mencoba
untuk menghubunginya tapi hasilnya nihil! Handphonenya tidak aktif,
dengan terpaksa dia harus sabar menunggu hari esok untuk mengetahui
keadaan Ryansyah sebenarnya. Netta menghempaskan tubuhnya di atas kasur
nya. Dia berharap waktu berjalan lebih cepat!
Keesokan harinya, Netta buru-buru lari menuju sekolah, hari ini
dia jalan kaki karna supir pribadinya sedang sakit. Dia tertegun ketika
melihat hampir semua teman-temannya memasang wajah sedih, dan tak jarang
juga yang menangis!
“Chels, ada apa ini?” Tanya Netta pada Chelsea teman barunya. Chelsea menangis sesenggukkan.
“Ryansyah Netta, Ryansyah… Kemarin saat pulang sekolah, Ryansyah mengalami kecelakaan dan meninggal dunia”
Deg! Netta seperti tersambar petir di siang bolong mendengar
ucapan Chelsea. Jantungnya serasa di tusuk-tusuk seribu jarum. Mengapa?
Sahabat sekaligus cinta pertamanya yang sangat ia sayangi pergi secepat
itu? Ternyata, kemarin adalah hari pertama sekaligus yang terakhir Netta
bertemu dengan Ryansyah. Sungguh tak terbayang sebuah persahabatan
singkat berakhir dengan tragis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar